Tinggalkan komentar

(Budaya, 1957) Puisi M Saribi Afn: Malam yang Kudus

Puisi Saribi Afn:

MALAM YANG KUDUS

I

Kemudian berangkatlah ia dengan kendaraan Tuhan
Setelah disuci hatinya dengan air ghaib zamzam
Setelah diisi darahnya dengan zatzat keyakinan
Setelah dipanggang dadanya dengan bara ketaqwaan
Setelah diserahkan hidupnya pada ilhamilham kerasulan
Dan Jibril yang mengawal tanpa pedang
Dan Jibril yang mengawal membawa kembang
Angin meniup silir, malam tanpa bulan
Angin meniup silir, mengantar Ia ke alam kesucian
Pada daerah persinggahan segala doa-doa permohonan
Pada daerah persinggahan segala doa-doa pengampunan
Pada gunung jurang lembah kasihsayang
Pada laut gelombanggelombang permaafan
Luas tak bertepi dan dalam tak berkarang
Kepergiannya dalam pedat kelam
karena ia sendiri penuh kasih sayang.
Pada pasir, yang ditinggal bermekaran kasihsayang
Padang pasir, yang ditinggal tak tahu kemana Ia berpetualang
O, Ia sendiri tak pernah bertanya, kapan akan pulang
Ia sendiri tak pernah bertanya, di mana letak bintang yang paling jalang
Kepergiannya atas perintah Allah yang datang di akhir petang.

II

Dengan segala bagian tubuhnya Ia bertolak
Dengan segala cabang perasaannya Ia bertolak
Bertanyalah setiap Ia menjumpai tonggaktonggak perjalanan
Bertanyalah setiap Ia mendengar rintihrintih perempuan
Hidup ini Ia hadapi dengan penuh keyakinan
Hidup ini Ia hadapi dengan penuh kasihsayang

III

Ada dilihatnya beberapa tamsil kehidupan
Ada didengarnya beberapa rintih kedukaan
Dari manusiamanusia sepanjang jalan
– bulan bersinar bening pada daerah yang penuh kewangian –
(Ini tamsil apa, ya Ruchul kudus?)
– Ia yang mati di jalan kepenatan –
– perempuan tua yang menggendong api nyala –
(ini tamsil apa, ya ruchul kudus?)
– Ia yang suka menelanjangi tubuh-tubuh manusia –
– perawan yang memakan dagingdaging busuk –
(tamsil apa, ya ruchul kudus?)
– Ia yang hidup dalam dunia kejalangan –
– padi yang tumbuh berulang dalam satu musim –
(ini tamsil apa, ya ruchul kudus?)
– Ia yang mati di jalan Tuhan –
(O Rasul Allah!)

IV

Akhirnya berangkatlah Ia ke alam keramat
Negeri yang belum pernah dirambah para umat
Setelah shalat di Baitulmakdis dua rekangat
Setelah memohon ampun dan segalah rahmat
berbareng dengan semua para malaikat
Berbareng dengan para  Rasul dan Nabi
Dan ulanglah ia ke alam ini di akhir wengi
Dengan membawa perintah sholat lima kali
Maka tetaplah Ia sebagai Rasul Illahi
Maka tetaplah Ia sebagai Rasul terakhir di muka bumi

– salam baginya yang telah tinggalkan kami –

Sumber: Majalah Budaya, Nomor 3 & 4 Tahun VI, Maret/April 1957, halaman 184-185.

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: