Tinggalkan komentar

(Abadi, 1972) M Ryana Veta: Hari Kreativitas Rendra Hampir Sore

HARI KREATIVITAS RENDRA HAMPIR SORE

Oleh: M. Ryana Veta

“Apakah dia akan bisa mempertahankan publik teaternya di masa-masa  mendatang?”  gerutu kawan saya ketika meninggalkan bangku teater terbuka Taman Ismail Marzuki selesai menonton improvisasi Rendra “Dunia Azwar” beberapa waktu yang lalu. Dan diucapkan kembali setelah ia nonton “Modom-Modom”nya Rendra.

Ada tanda-tanda bahwa kharisma yang dibangunnya lewat beberapa pementasannya yang berhasil di tahun-tahun yang lalu hampir mendekati kepudarannya.

“Mungkin dia butuh istirahat” kata saya.

Kawan saya yang sedikit banyak tahu tentang Rendra itu membenarkan ucapan saya.

“Seandainya ia begini-beginian terus maka sudah dapat dipastikan ia akan ditinggalkan orang secara diam-diam” kata kawan saya itu.

Sebenarnya sementara di pengamat-pengamat teater di Ibukota sudah lama timbul kecemasan pada apa yang diperbuat Rendra akhir-akhir ini terhadap teaternya. Untuk teater Mini Kata-nya yang pertama, Oedipus Rex, sampai ke Waiting for Godot-nya Beckett, orang masih bisa menyatakan penghargaannya. Malah khusus untuk Waiting for Godot banyak orang yang berpendapat, itulah puncak kreativitas Rendra dalam teaternya.

Tapi mulai dari Macbeth, Bardjanzi, Hamlet, dan sampai pada pementasannya yang terakhir ini, orang sudah mulai gelisah dan setidak-tidaknya beranggapan bahwa hari-hari kreativitas Rendra sudah hampir sore.

Malam setelah pementasannya Hamlet,  Asrul Sani sendiri menganjurkan supaya Rendra yang sudah terlalu letih itu banyak istirahat.

Ada sebahagian orang terutama dari kelompok teater ibukota beranggapan bahwa pangkal utama teater Rendra  menjadi sedemikian nilainya, terutama karena ia tidak memiliki tradisi pembinaan aktor yang baik. Sehingga Bengkel Teater menjadi miskin akan materi pemain. Di samping itu, Rendra sendiri tidak membutuhan aktor yang baik. Pemain baginya cuma sebagai wayang   yang tidak bernyawa.

Dan adalah wajar kalau suatu saat satu dua aktornya yang memiliki kemerdekaan dalam kreativitasnya, ia secara diam-diam dengan sendiri akan meninggalkan grup Bengkel Teaternya itu.

Lepas dari masalah nilai teaternya justru banyak menjadi bahan pembicaraan sekarang ini, ada juga yang berpendapat bahwa figur semacam Rendra penting bagi dunia kesenian kita. Mungkin pendapat ini bertolak dari keberhasilan Rendra dalam menarik simpati publik. Sehingga secara tidak langsung, Rendra telah menduduki fungsi sosial tertentu dalam masyarakt kita. Pendapat ini bagi saya sendiri terasa terlalu berbau  Hippies, karena dibalik yang tersirat itu terpendam suatu usaha untuk men-Charles Manson-kan Rendra (ini guyon loh?).

Kembali ke masalah teater tadi, saya lebih cenderung menyetujui anjuran Asrul Sani, supaya sebaiknya Rendra istirahat dulu. Rendra memerlukan masa pengendapan yang dalam. Tadinya saya sangat tertarik mendengar niatan Rendra untuk berhenti dulu jadi seniman (lihat Khatulistiwa IR, 30/8/71). Sehingga bahaya rutinitas dari kegiatan-kegiatannya seperti sekarang ini bisa dihindari.

(Lebak Soto, 1972)

Sumber; Suara Karya Minggu, 30 Januari 1972

About Kumpulan Fiksi

Blog ini bertujuan untuk menghimpun dan berbagi karya-karya fiksi dan yang terkait. Karya fiksi diantaranya cerita pendek atau cerpen; cerita bersambung atau cerbung; novel; dan puisi. Tulisan lainnya berupa resensi atas karya-karya fiksi, profil pekerja seni, catatan atau ulasan yang terkait dengan penulisan, dan sebagainya. Rubrik masih bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Semoga bisa menjadi ajang untuk melatih diri berkarya, dan berharap pula bisa meramaikan jagad sastra Indonesia. Jadi, bila anda memiliki karya, tidak usah meragu untuk mengirimkan karya anda ke: kumpulanfiksi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: