Tag Archive | Aant Subhansyah

Puisi Aant Subhansyah: Mu

Puisi Aant Subhansyah: Mu

MU Puisi Aant Subhansyah Menjemputmu di negeri hujan, menyimpan detak dari setiap rinaiNya, daun-daun kuyup bertunas dari sudut matamu swarna senja, aku merasakan akar yang mencengkram erat dalam pelukan, saat malam menghunus rindu, hingga pagi merekahkan cinta, embun yang mengkristal… Kita berjalan di bawah matari, menerabas semak kata dengan diam, engkau tersenyum saat kuselipkan kembang rumput […]

Puisi Aant Subhansyah: Naskah Lama

Puisi Aant Subhansyah: Naskah Lama

NASKAH LAMA  Puisi Aant Subhansyah Naskah lama yang terkunci dalam ulu hati bumi masih lekat dalam serat mawar yang berwarna darah sekian lama menunda kata, memaknai rindu, anugrahNya yang dekat naskah itu ditulis dengan tetes embun dari pucuk ilalang tertinggi, lalu sengaja dihindarkan dari terik matahari agar beningnya abadi, dan kesejukannya terus mengaliri arteri kita tapi alam […]

Puisi Aant Subhansyah: Adegan Satu

Puisi Aant Subhansyah: Adegan Satu

ADEGAN SATU Puisi Aant Subhansyah “Di mana Puisi ketika mereka dibutuhkan?!”, katanya pada suatu malam yang kerontang. “Entah”, jawabku sambil menggigit donat dan menghirup kopi instan yang rasanya tidak enak. “Sebentar lagi pagi”, lanjutnya, “daun-daun belum didatangi setitik embunpun, meski sudah banyak air mata yang tertumpah di akar-akarnya” Kubuka dompet, kulihat KTP-ku, tertulis Pekerjaan: Swasta […]

Puisi Aant Subhansyah: Kesedihan

Puisi Aant Subhansyah: Kesedihan

KESEDIHAN Puisi Aant Subhansyah ada sebatang pohon yang tak dimengerti oleh musim, aku menyebutnya “kesedihan” … dia tumbuh, merambati angin, mengagapi-gapai ruang kosong, tak bertumpu … tapi dia tetap memberi hijau pada udara, “aku berhutang budi pada matahari”, katanya ***Jogja 2012

Puisi Aant Subhansyah: Rumput Tetangga

Puisi Aant Subhansyah: Rumput Tetangga

RUMPUT TETANGGA Puisi Aant Subhansyah pagi itu kulihat rumput tetangga terkulai layu tak ada butiran embun pada bibirnya kering dan pecah-pecah, hanya debu dan partikel-partikel karbon segera kubagi dia setimba air dan sedikit unsur hara, (meski anggrek-tanahku sedikit cemburu) … kini rumput tetangga kembali menghijau, pucuk-pucuknya mengeliatkan senyum dikulum… tapi, ah celaka, dia merambat ke […]

Puisi Aant Subhansyah: Ibu yang Menanak Puisi dan Presiden yang Menyamar

Puisi Aant Subhansyah: Ibu yang Menanak Puisi dan Presiden yang Menyamar

IBU YANG MENANAK PUISI DAN PRESIDEN YANG MENYAMAR Puisi Aant Subhansyah Di sebuah gubuk, seorang ibu  sedang menanak puisi, sementara putri kecilnya menangis kelaparan. “sabar nak, sebentar lagi makanannya matang…” kata si ibu menghibur dengan getir. Tapi sudah berjam-jam, tak ada sesuatu yang bisa dimakan. Seorang presiden yang sedang menyamar sebagai Tukang kebun kebetulan lewat […]

Puisi Aant Subhansyah: Jembatan Kukar

JEMBATAN KUKAR  Puisi Aant Subhansyah (1) biar langit runtuh, kau tetap indonesiaku tapi kalau jembatan yang runtuh, indonesia macam mana pulak ini, aku pernah membeli kasur bergaransi sepuluh tahun, kini sudah sebelas tahun tak ada yang rusak, meski anakku protes karena bau ompol katanya (2) ku ingin membangun jembatan bambu untuk menggantikan jembatan yang rubuh […]