Tag Archive | Ajip Rosidi

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (9)

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (9)

Puisi Ajip Rosidi: UNTUK PAT (9) larut dan meresap ujung sepatu dilepasnya dalam malam berlupa belati dupa dan doa dupa dan puji ia kikiskan dinihari pagi kehilangan matahari bulan di jembatan besi dingin berlayar hati mengawasi bayangan Sumber: Majalah Budaya, Nomor 11-12 Tahun , 1954, halaman 44

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (8)

Puisi Ajip Rosidi: UNTUK PAT (8) adapun penyair dilahirkan membangkit kematian ditikamkan sebab dia berkibar benderanya lalu banyak berkata bunga jangan menangiskan kepedihan ibu melagukan kemudaan rindu siapa jelajahi pagi mendapat pertama sinar matahari lalu kunyanyi kinipun akan lahir nanti pergi penyair ke luar kamar terasa hambar di luar lalu kusajakkan kini suaranya sepenuh hari […]

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (7)

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (7)

Puisi Ajip Rosidi: UNTUK PAT (7) duka dia dukung sepenuh senja iapun kini sunyi tahu dua macam bunga tak terjangkau dari tepi ini dan harapan muda pada semula dingin kekasih pergi gembira dari kegembiraan teman pesta pulang hujan iapun bernyanyi di atas kesegalaan di atas kesediaan malam dari balik dinding kota kembali ke pusar gembira […]

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (6)

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (6)

Puisi Ajip Rosidi: UNTUK PAT (6) kuminta ia pada yang punya tertinggal dalam kata bersujud tekun sebuah hati oleh warnanya daun rambut berurai panjang hitam tak kan kusiasia menghalus teduh wajah berhamparan dari segi diri berujud warna lautan mimpilah hingga pagi menguak dan kenangan inginnya berontak sebaris gigi oleh kilapnya hari sepanjang bisa mengharap lagi […]

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (5)

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (5)

Puisi Ajip Rosidi: UNTUK PAT (5) keduanya berpadu jendela bertingkap malam ruah dari bapak kuterima rumah kuingkari bertiup angin melambai daun bertemu pada muka melebur tubuh ke-satu tirai berwarna lain dari rumah kedirinya dari bapak ke hatinya jadi bukan diterimanya bukan inginnya beralun wangi malam bintang dibaliknya memanjat matanya dalam kelam iri dan dengki mengimbang […]

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (4)

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (4)

Puisi Ajip Rosidi: UNTUK PAT (4) sesudah diri haripun mati bersandarkan sajak kembali dari negeri musim semi bercintakan salju betapa ngilu tanahair berdarah mimpi dan sendu kepada adik berbibir merah tertinggal di tanah rindu sesudah dinding putih embun matahari bersinar sepanjang hari lama diri akan terjun (kepada sitor) 19 Oktober 1954 Sumber: Majalah Budaya, Nomor […]

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (3)

(Budaya, 1954) Puisi Ajip Rosidi: Untuk PAT (3)

Puisi Ajip Rosidi: UNTUK PAT (3) mata kutemukan di jalan berdetak aku tak lagi bisa mngelak bertemu berjanji lalu pergi lelaki kewajiban menunggu di kebiasaan lari walauppun bercahaya terpendam walaupun bersinar memancar meninggalkan pesan oleh tulusnya surat-surat tak berberita surat surat tak berstempel duka melaburi seluruh rumah pergi dan berharap pulang 19 Oktober 1954 Sumber: […]