Tag Archive | Amien Wangsitalaja

Rumah – Puisi Amien Wangsitalaja

Rumah – Puisi Amien Wangsitalaja

Oleh  :  Amien Wangsitalaja kurasakan hangat dadamu hangat dada fatimah karena kisahku menyerupai bocah yang berlumuran darah melintasi gurun menyeberangi fitnah o, sapukan nafasmu segairah nafas ummil bathul karena aku tak ingin tersungkur seperti ‘ali, sehabis sahur mari bersaksi akulah syahid engkau syahidah tanpa ditikam belati tanpa luka hati dan kita menjadi tuan dan puan […]

Puisi Amien Wangsitalaja: Ache Nampar

Puisi Amien Wangsitalaja: Ache Nampar

  ACHE NAMPAR Puisi Amien Wangsitalaja ya hayyu ya qayyumu kalau hari ini tubuhku tercabik, bukan baru hari ini tubuhku tercabik kalau kali ini badanku terkorban, bukan baru kali ini badanku terkorban tubuhku telah lama robek oleh keserakahan nafsu badanku telah lama menjadi korban pertarungan ambisi dan kuasa arunku, hutanku, kakaoku tak mampu lagi meronta […]

Puisi Amien Wangsitalaja: The Spirit of Mecca

  THE SPIRIT OF MECCA Puisi Amien Wangsitalaja –kutandai, inilah ranah sufi di kota tempat kita menangkar asmara aku berhasil mengukur kerudungmu yang lebar mengukur rahasia aku melamunkan kiswah dan hitam hajar aku melamunkan hatimu yang sejak dari ruknul yamani sudah kuincar inilah ranah sufi bisikku pada gamismu yang besar saat hujan membuat sadar ada […]

Puisi Amien Wangsitalaja: Mendirikan Malam 2

Puisi Amien Wangsitalaja: Mendirikan Malam 2

  MENDIRIKAN MALAM 2 Puisi Amien Wangsitalaja aku meminangmu untuk menjadi ‘aisyah sehabis khadijah o sayangku, yang kemerah-merahan tertunduk diam kita menghitung detak jam derit daun pintu dan desah yang disapukan kita merundingkan bilangan raka’at di sepertiga terakhir malam dan dengan manja engkau menawar bilangan dzurriyyat melebihi ’aisyah melebihi khadijah sepadan angan o kurasa aku […]

Puisi Amien Wangsitalaja: Mendirikan Malam 1

MENDIRIKAN MALAM 1 Puisi Amien Wangsitalaja aku yang pertama mendengar dendang dinda pada malam yang kita ingat ia pernah dibagi tiga ini mungkin pada sepertiga yang kedua saat jam beranjak dari angka kosongnya aku mengaduk tasawuf akhlaq di dalam tiris nafasmu yang membasahi ceruk rindu kemarilah kubisiki, sayang ada hasrat berundan-undan semizan syariat seribu bulan […]

Di Lantai Ulin

– Oleh  :  Amien Wangsitalaja _______________________________________________ pada suatu ketika aku memang menghikmati nafasmu yang tak memburu di lantai ulin kamar tamu saat siang tempat guring saat malam kita tak merencanakan cinta tapi matamu melebihi buluh perindu yang kuangankan ada dalam gelas yang kausajikan untukku ”inilah gadis senja yang merana terpikul kegundahan yang lama kata mengalir […]