Tag Archive | Armaya

(Konfrontasi, 1958) Puisi Armaya: Nyanyi Kehidupan

Puisi Armaya: NYANYI KEHIDUPAN Kilauan matamu menyayat rabu hidup tersiksa kembali pada diri sendiri pagi terbang ke senja warna jingga yang merangkum naluri kehidupan terhampar segenap harapan serupa di hari tua Tangan-tangan kuasa tentukan pendar nasib diri sejuk wajahnya yang kunikmati arah barat daya tenggelam manis cinta dalam kerjanya sehari-hari mimpi dan mimpi menggugah kebakaan […]

(Konfrontasi, 1958) Puisi Armaya: Malam Tebal

Puisi Armaya: MALAM TEBAL Kristal kehidupan angguk malam yang terbakar sungguh gemilang pergumulan bersama maut bayangku bersama Tuhan hidup terlepaskan disentakkan oleh teriakan hati: aku ada! Perempuan wajah membosankan tapi menggilakan hakiki musim bersumber hidup yang kokoh dan warna rembulan teramat lembut padaku bola usia dalam baling-baling karang hitam Dipandangnya diri dan diri jauh kembara […]

(Konfrontasi, 1958) Puisi Armaya: Balada Sritanjung

Puisi Armaya: BALADA SRITANJUNG Satu tahta kerajaan sepi dilingkungan gunung terpijak pada lembahnya tanah subur sejak mentari pertama mendukung cinta ter-babad-lah cinta di kehidupan yang agung Sritanjung istri setia intipan setiap lelaki segenap perintah suami lunas di sari wajah pendar ikhlas keagungan cinta membakar darah gaibnya setiap pandang terasa pingsan di warna iklim Lahirlah atas […]

(Konfrontasi, 1958) Puisi Armaya: Selat Bali

Puisi Armaya: SELAT BALI Angin putih dan elang putih di tangan dewata ombak yang menghempas sebuah perahu putrid mahkota pelarian daerah Klungkung dijejakkan kakinya daratan Banyuwangi Elang putih yang memburu dendam dewata mengalir sungai perak membelah rimba dan di sungai ini matinya bakal tertemui kasih sayang mengendap di ubun-ubun (Putri daerah Klungkung, Sritanjung tersurat nama […]

(Budaya, 1957) Puisi Armaya: Mengantar Orang Mati

Puisi Armaya: MENGANTAR ORANG MATI Dalam ketiadaan yang sunyi menikam di sini ditinggalkan demi  kedamaian tangis kubur meremas hati kami dalam memandang alam yang beda Tidur dan ditidurkan demikian abadi tangan mengulur antara tanah tanah basah dan kami dalam keasingan wajah sedang desah terakhir  bumi diruntuhkan Hari terakhir diberikan begini mesra atau janji dalam redup […]

(Kisah, 1955) Puisi Armaya: Di Daerah Asing

Puisi Armaya*: DI DAERAH ASING Wajahnya kelasi bertolak bulan Juni hidup hamparkan ribaan dada nyala telanjang ikhlas arus menggoncangnya perahu angin menjemputnya begini hari-hari pertama bercumbu laut terharu manusia Berlabuh, diangin musim yang meremasi rambutnya di sini saja menyekar untuk kehidupan yang lebih lama berpadu ramal dalam kitab hitam berbunga perahu kelasi orangtua yang didaratan […]

(Kisah, 1955) Puisi Armaya: Memburu

Puisi Armaya*: MEMBURU Baru kali inilah beradu garis daerah tolak usia penuh kelembutan taman tirtonadi setia kerinduan tempat pemburu yang melepas setiap tergenang waktu Malam itu malam terakhir lagu keroncong tegalannya rumput muda dimakan bulan menggairahkan disampingnya binatang tidur kelelapan mimpi malamnya malam padu pucat tersingkap. Tingkahnya menepi jembatan pohon tiada merimbun segala lampu becak […]

(Indonesia, 1958) Puisi Armaya: Sriwedari

Puisi Armaya*: SRIWEDARI Derai ayun cemara menyobek lapang sriwedari cumbu yang lepas  lepas menakhluki diri dibanjir malam tua langkah jauh di ujung musim kelabu hati kengerian diri dahyat kehidupan Suar lampu mengerling taman malam mata mata pemburu angin cemara membelai rambutnya wajah malam gelojak danau sriwedari haus menghampar dirinya tersingkap kejauhan langkah kaki dalam malam […]

(Budaya, 1957) Puisi Armaya: Di Atas Makam Ayahanda

Puisi Armaya*: DI ATAS MAKAM AYAHANDA (Bagi Amenah, Hanafie, A. Saleh) Rumputnya liar berlingkar di dada bumi dan tanahnya satu berpenghuni abadi malaikatku bangun merangkul awal puasa bunda taburkan bunga tamasya yang indah Umur yang membur surup mentari pada wajah bunda terkenang segala tingkah dari pandang pertama dan sendunya hari penghabisan lewat sinar yang membakar […]

(Budaya, 1957) Puisi Armaya: Banyuwangi

Puisi Armaya*: BANYUWANGI Jalan menggaris panjang bayang-bayang tersulam atas tanahnya kedamaian cinta terpahat nisan darah leluhur tiada sembunyi ayun-ayun daunan tua Hidup hanya mewarisi cinta dan cita kehidupan atas darah-darah cita gerlap pendar mentari dan susu-susu ibu yang manis mewarna  hidup menggugah darah segenap cinta asing diri Lambaian nyiur sepanjang cinta abadi dan fajar sempurna […]

(Budaya, 1957) Puisi Armaya: Dari Tanah Rawa

Puisi Armaya*: DARI TANAH RAWA segenap yang jadi keyakinannya rawa bening remaja dari dunianya yang biru dan gelisah dari haru penghabisan takut mengendap dalam duka tanah wangi Lembah dikelilingi oleh laut jiwa wajah yakin dipendar bahagia tiba di hari minggu lembut remas kehadiran atas cerlang mentari tangan mimpi Hari pesta bertemu segenap janji dari kata […]

(Budaya, 1957) Puisi Armaya: Berita Dari Solo

Puisi Armaya*: BERITA DARI SOLO Alunan gamelan membenam dalam dada dari pandang tualang sebelum matinya dan terasa tamasya sriwedari mempesona malam di mana kau penghuninya yang kepas Hari membentang antara janji di ujung mati bulan maret yang luka dan tangis perempuan berdesakan antar cahya tergesa dekap mimpi dari pandang yang duka aku yang sendiri mencium […]