Tag Archive | Arsip Sastra

(Zenith, 1952) Puisi Trisno Sumardjo: New York

Puisi Trisno Sumardjo: NEW YORK Raksasa industri terlaksana mewah Oleh gedung menggunung berpapasan awan, Dari perut tanah menggait ke kulit langit Baris beton berbaja main-serdadu-peradaban. Manusia bagai burung modern menangkap diri, Buru-memburu di sangkar berloteng seratus, Matahari berlari dikejar dewa materi Dan Dollar menggiling, menggilas dan menggila. Hidup melancar dalam pakaian nilon, Di atas roda […]

(Zenith, 1952) Puisi Trisno Sumardjo: Syair-Syair Kecil Tentang Hidup

Puisi Trisno Sumardjo: Syair-syair Kecil tentang Hidup Dari detik ke detik dada berdetak Memukulkan bertubi godam Kerja dan Kasih. Tiap kali hati menjawab, “Maut kutolak!” Diseretnya beban Hidup, dan makhluk merintih. Kerja sehabis tenaga dan sisanya untuk cinta. Anak terlahir antara letih dan tak sengaja Dia pun tumbuh, mengulang riwayat ibu dan bapa, Dia pun […]

(Zenith, 1952) Puisi Trisno Sumardjo: Pinggir Sawah

Puisi Trisno Sumardjo: PINGGIR SAWAH Kalau kita lintasi jalan yang lengang Di mana batang bambu melunglai lelah Bagai tanglung alam mengulur salam Kita dengarkan sambil melenggang lalu Lenguh lembu di belakang bambu. Dalam bayangan daun mendesau Hati mengaji hikmat yang sedap. Alangkah sukur bekerja di sini Di tengah rakhmat kaum petani, Dan di medan kehijauan […]

(Zenith, 1952) Puisi Trisno Sumardjo: Tamasya

Puisi Trisno Sumardjo: TAMASYA Marilah di sini melepaskan beban yang mengutuk kita di kota Dan jadi anak manusia yang kagum menghadap rasa. Kita membonceng di punggung alam, mendengarkan di dadanya Kisah rahasia bumi, dan matahari, ibunya: Kita petik keindahan langit dan laut yang leluasa, Kita simpan keragaman birunya dalam kenangan. Pohon dan bunga kita pinjam […]

(Kisah, 1955) Puisi Taufiq Ismail: Kemarau di Desa Bangkirai

Puisi Taufiq Ismail KEMARAU DI DESA BANGKIRAI Seekor anjing melolong larut di lereng bukitbertubir Bulan merah di sungai bulat mengapung. Angus dan pijar Kurus lembah kuning patah dauntebu didukung punggunggunung Melantun bayang tetes pancuran: tubuh jerami merapuh Malam ramadhan dinginnya menusuk ke hulu tubuh Kemarin tengah hari udara meleleh dipadangpanjang Kerbau si-Sati, kambing coklat mengahngah […]

(Mimbar Indonesia, 1955) Puisi WS Rendra: Justru Pada Akhir Tahun

Puisi WS Rendra: JUSTRU PADA AKHIR TAHUN Bermukimlah di peti mati dan jangan menangis lagi aku terpaksa berkhianat dan cintamu jadi siksa keengganan kehilangan jadi ketakutan bangsawan sangsi yang ini mendorong ingin punya segala dan jadilah hatiku asing pada pangkalan dan persinggahan Berilah aku kenikmatan atau keedanan dan bukan cinta cinta memang kudamba tapi jadi […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Ciliwung yang Manis

Puisi WS Rendra: CILIWUNG YANG MANIS Ciliwung mengalir dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta kerna tiada bagai kota yang papa itu ia tahu siapa bundanya CIliwung bagai lidah terjulur Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya Dan Jakarta kecapaian dalam bisingnya yang tawar dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar hati yang berteriak karena sunyinya maka segala sajak adalah terlahir […]