Tag Archive | Arthum Artha

(Indonesia, 1957) Puisi Arthum Artha: Konsepsi Jauh

Puisi Arthum Artha: KONSEPSI JAUH Dia memperlihatkan padaku suatu rencana indah tapi silaukan mata o, adalagi dewan darah manusia di atas otak tak tulisan dibikin sesama manusia Bila bulan dan harapan banyak orang dan kedatangan pembesar pada hari pesta ada halhal yang menggelikan kesuraman citahidup yang memuntahkan hati Disodorkan juga konsepsi ini: sang rakyat kehilang […]

(Indonesia, 1957) Puisi Arthum Artha: Perwakilan Peralihan

Puisi Arthum Artha: PERWAKILAN PERALIHAN – Kepada Wakil rakyat – Padat bicara-bicara dan keras keras di persidangan, membual? Kelakuan, kezaliman, keterlaluan juga kebalauan kerja mual, karena pekik rencana saja Ke persidang dan ke pekerja menunggu uang, tunggu terus dan pemerasan di pinggir jalanan, lumayan Oweh, ini wakil rakyat tidak juga memberi keseimbangan kami kami yang […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Indonesia

Puisi Murya Arta*): INDONESIA Angin penghabisan dari pantai laut selatan mengheningkan cipta bagi segala pejuang keraguan telah mati kesangsian hilang persatuan di atas kebangsaan meluap ke atas meninggikan derajat bagi tanah air lalulah musafir yang hanya menangis Lihat! fajar tiada lagi telah tiba giliran matahari beraja di kota siang penuh kesabaran dan ketabahan melawan awan […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Sebuah Lagu

Puisi Murya Artha SEBUAH LAGU Pernah si burung layang-layang berganti sarang di bawah atap daun anak ayam masih berkutik saja bintang hanya seminar di awan-awan Di balik layar, nelayan mengusut dada perut nyalakan meluap dahaga ombak menderu dan membanting keras keroncong perut seperti: babi kena pijak gajah Boleh banyak orang bertanya jawaban manunggal rasa kasihan […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Kawan

Puisi Murya Artha KAWAN Aku sudah memberi obat bedil dan sendawa cukup perang tanding, malah kita lalui: Cuma hari ini kita menyusun arsip baru, arsip kemenangan seimbangan anggaran negara kita, setingkat naik ke bintang dan telah menjulang di garis tinggi yang ketujuhnya selapis lagi nyata kesatuan segala perbuatan kebangsaan satu di atas ajaran cita-cita kedaulatan […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Juita

Puisi Murya Artha JUITA Rapat kita dalam pleno kemarin dan rencana Ketua adalah keputusan dari rapat 1945 waktu 17 Agustus 4 tahun yang berdarah sejarah hari kita kupas sebab musababnya sampai pada akar serabut sampai pada akar kezhaliman biarkan putus, satu demi satu; kita harus demokrasi menggagah Lintaskan ini perkara buruk dan jijik itu buangkan […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Rapat

Puisi Murya Artha RAPAT Diantara para pemegang peranan rapat-rapat, ditengah adanya pertempuran kegesitan revolusi kita banyak daging yang mati menimbun tanah-tanah lekang seakan dunia ini tidak cukup kurnia Tuhan dan selalu kekurangan alat menutup lubang-lubang. Sumber: Majalah Siasat, Nomor 171 Tahun IV, 18 Juni 1950. *) MURYA ARTHA, dilahirkan di Desa Parincahan, Kandangan, Kabupaten Hulu […]