Tag Archive | Asrul Sani

(Siasat, 1951) Puisi Asrul Sani: Mainan Dengan Suasana

Puisi Asrul Sani: MAINAN DENGAN SUASANA Wiri punya puisi kanan-kiri lembah dadanya Lagu didendangkan bunga hijau dan lembayung lekat di nyawa. Ia mengirai rambut, dalam warna, dalam warna Waktu jam-jam fajar ia bawa cangkir kasih. Manis, kau hirup darahku, dan aku tiada pergi. Tanya-tanya dari senyuman kecil dalam kenyamanan Tambah besar lamunan dahan yang berbayangan […]

(Siasat, 1951) Puisi Asrul Sani: Potret Sendiri Akhir Tahun ’50

Puisi Asrul Sani: POTRET SENDIRI AKHIR TAHUN ‘50 Tiada lagi, kenangan! Tiada lagi Jalan kembali telah terkunci, Pasir mersik beterbangan melarikan jejak kaki, Tulang-tulang dada sampai meranggah, Berderik merah karena cekikan Tetapi pandangan terakhir telahterlupa Memang kota yang kudekati, telah kelabu tenggelam dalam perasapan, Serta perburuan si pongang telapak Pada dinding dan ruh-ruh yang telah […]

(Budaya, 1954) Puisi Asrul Sani: Sebagai Kenangan Kepada Amir Hamzah – Penyair yang Terbunuh

Puisi Asrul Sani: KENANGAN KEPADA AMIR HAMZAH Penyair yang Terbunuh Ciumlah pinggir kejauhan tangan terkulai karena revolusi ! Tinggalkanlah ribaan bunda dan mari kita iringkan desir air di pasir nikmati tokoh perawan dan gadis penari ! Kembangkan layar ! Pelaut remaja, Baringkanlah diri di-timbaruang dan pandang bintang tiada tertambat di pantai Rahasia kita hanya disembunyikan […]

(Zenith, 1951) Puisi Asrul Sani: Orang dari Gunung

Puisi Asrul Sani: ORANG DARI GUNUNG Terkapar senja Bermuram durja Halaman dalam warna merah jingga Kala itu orang asing sampai di pintuku “Di pegunungan sepanjang tahun kayu-kayu berbunga dan cinta bersih, karena jauh dari kota. Aku sampai di sini, karena mau bawa kau pulang Pesan ibu ia telah berangkat tua Musim hujan akan datang dan […]

(Indonesia, 1949) Puisi Asrul Sani: Kekasih Yang Kelu

(Indonesia, 1949) Puisi Asrul Sani: Kekasih Yang Kelu

KEKASIH YANG KELU Untuk Seorang sahabat   Air mata, alahlah sekali ini air mata dari hati yang mengandung durja, Dan keluhlah kekasih yang senantiasa berkisah, Tiadalah lagi senyum akan timbul karena suatu kemenangan Habislah segala kenangan – selalu pada fajar – selalu yang membawa harap. Sudah tahu, suatu kesalahan sekali Telah merobah titik asal-harap. Dan […]

(Indonesia, 1949) Puisi Asrul Sani: Pengakuan

(Indonesia, 1949) Puisi Asrul Sani: Pengakuan

Asrul Sani: PENGAKUAN Akulah musafir yang mencari Tuhan Atas Runtuhan gedung dan dada yang remuk Dalam waktu tiada kenal berdiam dan samadi Serta kepercayaan pada cinta yang hilang bersama kabut pagi Akulah yang telah berperi. Tentang kerinduan akan penyeesaian yang tamat Dari manusia, dari dunia dan Tuhan Ah, bumi yang mati, Lazuardi yang kering Bagaimanakah […]