Tag Archive | Harijadi S Hartowardojo

(Zenith, 1951) Puisi Harijadi S Hartowardojo: Jemu

Puisi Harijadi S Hartowardojo: JEMU Kenangan pada awan tak jadi hujan Biduk bulat ini dikayuh berputar-putar sekitar sumbu. Pantai mendampar diri jemu memandang permainan ini memanggil ombak juga tidak berdaya mengajak biduk agak beranjak Matahari ikut juga diam tercapak di langit tidak bertepi tiada kuasa menahan lari panas yang memancar meninggalkannya Hanya kerang yang dilempar […]

(Zenith, 1951) Puisi Harijadi S Hartowardojo: Surat-Surat Tidak Bertanda

Puisi Harijadi S Hartowardojo: SURAT-SURAT TIDAK BERTANDA Dari Soem Remaja yang selalu sengsara diam dalam bilik remang Cahya lilin bergerak gelisah diam Di tangan lembaran sejarah mengucurkan darah Dua bintang indah menangis di dekat pagi Pensil lagi tidak lincah menggaris Keindahan terletak di punggung Dari bibirmu beri aku berita Ibukota yang dulu kita tinggal pergi […]

(Zenith, 1951) Puisi Harijadi S Hartowardojo: Pengharapan

Puisi Harijadi S Hartowardojo: PENGHARAPAN Lagu yang hanya sebuah ini mulai meninggi Cuma untuk dimainkan sekali Rumah manja kini tidak punya jendela Tak mungkin kujenguk penghuni dalamnya: Ada orang berdansa? Ada orang meratapi Tuhan dengan takdirNya? Siapa memahatkan nama di muka tangga kehabisan suara – musim bertukar-ganti memaksa janda gantung diri serta menikamkan belati ke […]

(Zenith, 1951) Puisi Harijadi S Hartowardojo: Kemarau Tiba

Puisi Harijadi S Hartowardojo: KEMARAU TIBA Hujan sudah lama menjauhkan diri Rintik penghabisan halus membasahi hati Tapi debu kering putih melengkapi bibir Dan mengelabui mata Kijang liar ini naik rangsang Memacu diri antara daun berguguran Mahkota lisut bertaburan Debu dan bau kering bertiup Dari kejauhan menuju Pantai yang berlumpur Sebentar mencium hidung runcing tercokok ke […]

(Zenith, 1951) Puisi Harijadi S Hartowardojo: Lagu Cinta Tiada Langsung

Puisi Harijadi S Hartowardojo: LAGU CINTA TIADA LANGSUNG Ia hendak lalu cintaku yang datang, cintaku yang hilang Bulan sudah lama diam terbenam Sesudah berlayar di mega yang meriak Peluit berbunyi dan kereta berangkat jauh terlambat Pagi telah tiba Pagi telah tiba Meminta kelam dan remang bergalau ke gunung hijau Roda berciut sedit menuju ke ujung […]

(Zenith, 1951) Puisi Harijadi S Hartowardojo: Fragmen

Puisi Harijadi S Hartowardojo: FRAGMEN Ada suara membenam ke dalam Tidak mau ‘nggelegak seperti pusaran di laut dalam lahir hanya riak mencumbu lunas kapal yang lewat agak terlambat Hanya hujan dan angin sering berputing seperti cerita kelasi di ibukota menyuruk ke gubuk di tengah ladang: Tidak tahan kegaduhan dan kehidupan dan kegagalan bersatu dalam diri […]

(Siasat, 1951) Puisi Harijadi S Hartowardojo: Lereng Senja (III)

Puisi Harijadi S Hartowardojo LERENG SENJA III Laki dan perempuan yang tinggal di pinggir telaga Menemu muka pada air tiap tenang mengaca Datang malam purnama Segala biisa indah mengada Dan di atas batu tengah teratai Lelaki menanti kail di telan ikan lupa bahagia Semalam suntuk ikan dan manusia asyik berbalasan Dan teratai membuka diri Pagi-pagi […]