Tag Archive | Insan Purnama

Bertemu Jansori Andesta yang Menyembunyikan Rasa Merindu – Ulasan Insan Purnama

Bertemu Jansori Andesta yang Menyembunyikan Rasa Merindu – Ulasan Insan Purnama

Ketertarikan saya terhadap puisi berjudul “Terselindung Jauh Rasa Merindu” karya Jansori Andesta diawali oleh keterkejutan saya saat mata saya menubruk kata terselindung. Mulanya saya berpikir bahwa pada kata itu terdapat sisipan –el-, tapi saya tidak menemukan kata dasar sindung. Lalu, saya berpikir mungkin salah ketik, semestinya terselandung sehingga kita bisa dapatkan kata dasar sandung dengan […]

Conni Aruan Bermain-main dengan Warna dan Waktu

Conni Aruan Bermain-main dengan Warna dan Waktu

Conni Aruan menulis sebuah puisi yang berjudul “Semalam, Bulan Berwarna Oranye”.  [link: http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/06/25/semalam-bulan-berwarna-oranye-568192.html%5D. Selengkapnya puisi itu bisa dinikmati di bawah ini.

Suko Waspodo: Sebuah Percumbuan Lewat Puisi – Ulasan Insan Purnama

Suko Waspodo: Sebuah Percumbuan Lewat Puisi – Ulasan Insan Purnama

SUKO WASPODO: SEBUAH PERCUMBUAN LEWAT PUISI Ulasan Insan Purnama Nama ini sudah beberapa kali memberikan link  di wall Fiksiana Community. Saya pun diam-diam membaca karyanya. Tapi, lama nian saya menanti puisi yang bisa menyentuh hati atau perasaan saya sampai akhirnya tadi pagi saya melihat dia memberikan link lagi. Saya tergoda oleh judul puisinya “Memadu Hati […]

Fiksi adalah “Si Anak Tiri” – Catatan Insan Purnama

Fiksi adalah “Si Anak Tiri” – Catatan Insan Purnama

FIKSI ADALAH “SI ANAK TIRI”  Catatan Insan Purnama Di bangku sekolahan dikenal ada dua ragam karangan, yaitu fiksi dan nonfiksi atau ilmiah dan nonilmiah. Fiksi sama dengan nonilmiah, sebaliknya nonfiksi sama dengan ilmiah. Bila kita tanyakan pada anak-anak sekolahan, apa yang dimaksud dengan fiksi dan ilmiah itu?  Kira-kira jawabannya seperti ini. Karangan ilmiah adalah sebuah […]

Group Komunikasi Sastra Gagas Lesehan Sastra Tiga Kota

Group Komunikasi Sastra Gagas Lesehan Sastra Tiga Kota

Salam Seni Sastra Salam Budaya  Dari hasil Pertemuan Komunitas “Komunikasi Sastra“, sebuah group yang ada di jejaring sosial Facebook, pada hari selasa tanggal 20 Desember 2011, disepakati aktualisasi kegiatan sastra dalam bentuk, sebagai berikut;  I. Kolaborasi Karya Tulis Puisi Terpilih II. Lomba Karya Tulis Cerita Pendek III. Kegiatan yang bertajuk; “LESEHAN SASTRA 3 KOTA”  A. […]

Hikayat 3 Sahabat #40 Tamat – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #40 Tamat – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ LAMPIRAN Sekarang… Haji Engkur adalah pengusaha bengkel bubut besar dengan nama Bengkel Bubut “EB”. Huruf EB ini singkatan dari Engkur Bubut. Kata bubut itu melekat dengan dirinya menunjukkan dedikasinya yang luar biasa kepada perbubutan. Selain pengusaha bengkel bubut, ia pun membuka dealer motor. Bisa ditebak, nama dealernya pun Dealer Motor “EB”. […]

Hikayat 3 Sahabat #39 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #39 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ Kamis, 16 Agustus, pukul 07.00, Ruang Sidang Tesis Aku duduk dengan tegang di kursi khusus, sedangkan di depanku empat orang penguji duduk dengan serius. Mas Syam, temanku yang ikut hadir, duduk di belakangku. Pak Ketua Jurusan, merangkap sebagai ketua sidang, meneliti beberapa berkas. Di sampingnya kanannya duduk pembimbingku, di samping kirinya, […]

Hikayat 3 Sahabat #38 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #38 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ Demikianlah akhir hikayat ini…  EPILOG * Berdesakan di dalam kereta ekonomi jurusan Jakarta-Bogor adalah sebuah keniscayaan bagi rakyat kecil yang hanya memiliki kemiskinan. Jadi, orang miskin tidak perlu malu. Sebab justru orang kaya memerlukan orang miskin. Tidak akan ada orang kaya jika tidak orang miskin. Kata dosenku, bagi mereka yang menganut […]

Hikayat 3 Sahabat #37 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #37 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 34 Sehari menjelang pengumuman diterima atau tidaknya masuk SMP Negeri 1, Damis dan Engkur datang ke rumahku. Saat itu malam hari. Kami mengobrol di halaman depan rumahku, duduk-duduk di atas tikar yang sengaja digelarkan. Bulan sedang purnama. Terangnya bulan lebih terang dari listrik PLN yang seredup cahaya lilin. Singkong rebus disajikan […]

Hikayat 3 Sahabat #36 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #36 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 33 Guru kelas kami adalah Pak Abas. Beliau jago melukis. Pada dinding ruang kelas VI, ruang kelas kami, terdapat lima lukisan karya Pak Abas. Empat lukisan bercerita tentang pahlawan: ada Perang Diponegoro, Perang Padri, Sepuluh November, dan Peristiwa Rengasdengklok. Kami tahu dari judul-judul yang tertera pada lukisan itu. Lewat lukisan-lukisan itu […]

Hikayat 3 Sahabat #35 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #35 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ MEMILIH NASIB  32 Naik ke kelas VI. Acara kenaikan kelasnya sudah tidak semeriah dulu lagi. Setelah ada rapor, kenaikan kelas hanya dilakukan dengan cara membagikan rapor kepada orang tua siswa. Tidak ada lagi kemeriahan panggung dan ketegangan seperti dulu. Tahun ajaran tidak lagi dimulai dari Januari hingga Desember, tapi sudah dari […]

Hikayat 3 Sahabat #34 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #34 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 31 Pabrik kue Mang Ojo akhirnya tutup juga. Engkur pun kehilangan pekerjaan. Syukurlah ada bengkel bubut buka di kampungku. Yang punya Ko Liem, keturunan Cina yang sudah masuk Islam, tapi tetap memakai nama Cinanya. Ko  Liem menerima Engkur bekerja di bengkelnya dengan syarat Engkur paginya harus tetap bersekolah. Selain Engkur, Ko […]

Hikayat 3 Sahabat #33 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #33 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 30 Semalam aku tidak ke mana-mana. Aku pun tidak pergi mengaji. Hujan deras sejak jam lima sore hingga malam. Bahkan, hujan rintik-rintik masih terus berlangsung. Jalanan dan halaman rumah sudah tergenang banjir setinggi lutut. Malahan, di tempat-tempat tertentu sudah sepinggang orang dewasa. Semalam-malaman banyak orang kampungku tidak tidur sebab bunyi kentongan […]

Hikayat 3 Sahabat #32 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #32 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 29 Pada bulan Desember saat kami kelas IV ada dua peristiwa penting terjadi. Yang pertama adalah ternyata kenaikan kelas yang biasanya dilangsungkan pada setiap bulan Desember, tahun itu dimundurkan pada bulan Juni tahun berikutnya. Jadi, ada tambahan selama enam bulan pada tahun ajaran tersebut. Ternyata itu adalah kebijakan dari Menteri Pendidikan […]

Hikayat 3 Sahabat #31 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #31 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ KE SEKOLAH LAGI 28 Tahun ajaran baru sudah mulai. Sekarang aku, Damis, dan Engkur murid kelas IV SD. Hari ini hari pertama kami masuk sekolah. Aku dan Damis sudah datang pada pukul setengah tujuh. Seperti biasa, kami selalu berangkat bareng ke sekolah. Terutama Damis yang selalu ngotot agar aku mau dijemputnya […]

Hikayat 3 Sahabat #30 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #30 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 26 Panggung di depan kantor kades terang-benderang oleh beberapa lampu petromak. Terang-benderang itu bukan hanya di panggung, tetapi juga di halaman dan jalanan sekitar kantor kades. Lampu-lampu petromak dipasang di beberapa tempat. Lampu-lampu itu digerek dengan tambang ke atas tiang bambu agar terangnya jauh menyebar. Sekali-kali kelak petugas yang jaga di […]

Hikayat 3 Sahabat #29 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #29 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 25 Saat ada  perayaan hari besar Islam, sepeti Maulid atau Isra Mi’raj, pengajian kami pun selalu memperingatinya. Rasanya kurang afdhol bagi kami jika tidak memperingati hari-hari besar Islam itu. Untuk pengajian, seperti pengajianku, biasanya peringatan yang dilakukan sangat sederhana. Cukup dengan berkumpul, mendengarkan ceramah dari Kang Utang, berdoa, lalu menikmati makanan […]

Hikayat 3 Sahabat #28 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #28 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 24 Kang Saji adalah tipikal laki-laki mandiri. Sekolahnya hanya sampai SD, sebab ia tidak mampu meneruskan ke SMP. Waktu di SD pun dia bekerja serabutan untuk bayar SPP dan membeli perlengkapan sekolahnya. Ia sudah yatim sejak kecil.  Ia pernah merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai tukang foto keliling di Jakarta. Saat […]

Hikayat 3 Sahabat #27 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #27 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ MENGAJI 23 Setiap sore anak-anak di kampungku pergi mengaji. Biasanya pengajian itu berlangsung dari magrib hingga jam delapan atau jam sembilan malam. Anak-anak kecil paling-paling mengaji hingga jam tujuh malam. Mereka biasanya didahulukan mengajinya dibanding anak-anak yang sudah besar. Maklumlah anak-anak kecil tak tahan duduk lama-lama dan cepat mengantuk. Lagi pula, […]

Hikayat 3 Sahabat #26 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #26 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 22 Saat becakku berhenti di rumahku, kami disambut dengan teriakkan, “Belaaa! Belaaa!” Teriakan itu bersahutan dan tiba-tiba saja terjadi kesibukan di halaman rumahku. Ayam jago yang sudah disiapkan langsung dipotong. Tak lama ayam itu terlihat menggelepar-gelepar di halaman ditonton anak-anak kecil sambil tertawa-tawa kegirangan. Aku melewati halaman rumah dengan tersenyum. Kakekku […]

Hikayat 3 Sahabat #25 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #25 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 21 Suatu subuh aku dibangunkan papaku. Tidak seperti biasanya. Disuruhnya aku sholat subuh di rumah saja. Selesai sholat subuh, beliau tidak berbicara apa-apa padaku. Mamaku menyiapkan air minum: beberapa gelas teh manis dan kopi. Seperti sedang menunggu orang. Tak lama berselang, pintu rumahku diketuk orang. Lalu, terdengar orang uluk salam, “Asslamualaikum!” […]

Hikayat 3 Sahabat #24 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #24 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 20 Bioskop itu bernama Gembira. Gedungnya tinggi. Ada halamannya yang cukup luas. Poster-poster film yang akan diputar dipasang. Ada empat poster yang dipasang. Di atas poster-poster itu masing-masing ada tulisan: Hari Ini, Akan Datang, Selanjutnya, dan Midnight. Setiap hari sekitar jam 2 sore, mobil colt buntung milik bioskop itu akan berkeliling […]

Hikayat 3 Sahabat #23 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #23 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 19 Besoknya mamaku menepati janjinya. Bahkan, mama mengajak juga Damis dan Engkur. Jadilah kami menikmati sate ayam di dalam pasar. Untuk kami, bisa menikmati sate ayam adalah kesempatan yang sangat langka. Selain harganya mahal, makan sate ayam juga harus ada alasannya. Ya, sekarang ini alasanya adalah sebab kami naik kelas. “Jadi, […]

Hikayat 3 Sahabat #22 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #22 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 18 Panggung buat acara kenaikan kelas sudah berdiri di tengah-tengah halaman sekolah. Kemarin sore beberapa orang diminta oleh bapak kepala sekolah kami untuk mendirikan panggung. Kenaikan kelas di kampung kami saat itu meriah sekali. Bahkan, pakai acara hiburan segala. Anak-anak dari kelas satu hingga kelas lima sudah dipersiapkan dan dilatih untuk […]

Hikayat 3 Sahabat #21 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #21 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___  17 Akhirnya hari kenaikan kelas pun tiba! Sejak bangun pagi, hatiku sudah deg-degan. Waktu  Subuh tadi di mushola aku sholat khusuk sekali. Dan, di mushola aku bertemu Engkur dan Damis, yang tidak seperti biasanya, sholat di mushola. Saat bertemu dengan mereka, aku tersenyum. Engkur menafsirkan senyumanku dengan berkata, “Biarkanlah pagi ini […]

Kemarau – Cerpen Insan Purnama

Kemarau – Cerpen Insan Purnama

Tapi, dalam hatinya, entah kenapa, Pak Kades berkata, “Maafkan saya, Bu.” Dan, air matanya pun jatuh bergulir, yang secepat kilat, segera dihapusnya agar tidak dilihat bapak-bapak yang lain. Cerpen: Insan Purnama Kemarau panjang melanda sebuah kampung. Tahun ini kampung itu terasa panas dan panas sekali. Jalan akses menuju kota kecamatan yang belum di aspal terasa […]

Hikayat 3 Sahabat #20 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #20 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ NAIK KELAS 16 Sebulan sebelum kenaikan kelas, papaku menemuiku di ruang belajarku. Saat itu, aku sedang mengerjakan PR matematika. Tidak seperti biasanya beliau langsung berbicara padaku. Biasanya, apa yang hendak beliau sampaikan kepadaku selalu melalui mamaku. Papaku yang jarang bicara sangat percaya akan kemampuan mamaku menyampaikan kabar, berita, nasihat atau apa […]

Hikayat 3 Sahabat #19 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #19 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 15 Selain kijing, berkah lain dari surutnya air irigasi adalah tanah liat. Tanah liat menjadi sangat berlimpah. Kalau kijing dinikmati dengan dimakan, maka tanah liat dinikmati dengan menciptakan berbagai bentuk mainan. Masternya berkreasi dengan tanah liat adalah Agus, anak Pak Wakil. Satu sore aku, Damis, dan Engkur kembali ke irigasi. Sejak […]

Hikayat 3 Sahabat #18 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #18 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 14 Musim perang-perangan dengan bunga jambu pun tiba-tiba usai sudah ketika Pak Wakil dengan beberapa stafnya menempel kertas pengumuman di setiap tiang listrik dan pos ronda. Pengumunan itu berbunyi, “ DILARANG MAIN PERANG-PERANGAN PAKAI PELURU DARI BUNGA JAMBU SEBAB BERBAHAYA BISA MEMBUTAKAN MATA. BARANGSIAPA TIDAK MENGHIRAUKAN PENGUMUMAN INI AKAN DIKENAKAN SANKSI!”. […]

Hikayat 3 Sahabat #17 – Novel Insan Purnama

Hikayat 3 Sahabat #17 – Novel Insan Purnama

Novel Insan Purnama ___ 13 Anak-anak kulon sedang berkumpul di halaman depan rumah Mang Ajum. Halaman depan rumah Mang Ajum cukup luas, tidak berpagar, dan  ada tiga pohon jambu yang tumbuh di sana. Pohon-pohon jambu sedang berbunga. Beberapa bunga sudah berubah menjadi buah. Tapi, tentu saja masih kecil-kecil perlu waktu sebulan lagi baru besar dan […]