Tag Archive | Jansori Andesta

Puisi Jansori Andesta: Pada Bumi Kian Lindap

Puisi Jansori Andesta: Pada Bumi Kian Lindap

PADA BUMI KIAN LINDAP Puisi Jansori Andesta  tanah lembab, daunan lembab, tiang-tiang dan teratap lembab semua lembab dan dingin mengendap pada bumi kian lindap tersiram bulir titik-titik air dari awanan gelap menyeka panas yang seakan tiada pernah hendak berikan harap bagi nafas-nafas hari yang terasa pengap ya, hujan kembali menyergap deras melumuri petak-petak bumi yang […]

Puisi Jansori Andesta: Malam ini Kembali Kita Bersapa (buat Yayag Yp)

Puisi Jansori Andesta: Malam ini Kembali Kita Bersapa (buat Yayag Yp)

MALAM INI KEMBALI KITA BERSAPA Buat Yayag Yp Puisi Jansori Andesta   malam ini kembali kita bersapa saudaraku bercengkrama bercerita seperti waktu-waktu yang lalu lepas segala rindu walau tiada sekali pernah bertemu kecuali hanya di kemayaan ruang dan waktu deras hujan inilah menjadi latar kau dan aku mengalir ia dengan segala teduh hapuskan segala dendam […]

Bertemu Jansori Andesta yang Menyembunyikan Rasa Merindu – Ulasan Insan Purnama

Bertemu Jansori Andesta yang Menyembunyikan Rasa Merindu – Ulasan Insan Purnama

Ketertarikan saya terhadap puisi berjudul “Terselindung Jauh Rasa Merindu” karya Jansori Andesta diawali oleh keterkejutan saya saat mata saya menubruk kata terselindung. Mulanya saya berpikir bahwa pada kata itu terdapat sisipan –el-, tapi saya tidak menemukan kata dasar sindung. Lalu, saya berpikir mungkin salah ketik, semestinya terselandung sehingga kita bisa dapatkan kata dasar sandung dengan […]

Puisi Jansori Andesta: Malam Kematian

Puisi Jansori Andesta: Malam Kematian

MALAM KEMATIAN Puisi Jansori Andesta melolong anjing panjang memecah hening jadikan rinding angin berputing henyak mendesak dinding risau bergeming udara lembap lekat menambah gelap tercekik harap semakin gelap dengar suara ratap nembus teratap masih melolong lengking menyisir lorong fikiran kosong bertambah ratap angin sejenak hinggap duka terjawab isak menyesap senada pada ratap ajal mendekap Bengkulu, […]

Puisi Jansori Andesta: Tertawalah, Tertawa Bersama

Puisi Jansori Andesta: Tertawalah, Tertawa Bersama

TERTAWALAH, TERTAWA BERSAMA  Puisi Jansori Andesta bila tangis tak lagi bisa ungkapkan luka si air mata hanyalah akan jatuh tersia membanjir ia di separuh wajah terserak atas tanah tanpa terjamah hingga kan kering pelupuk mata bila rintihan pula tak lagi bisa nyatakan duka setiap ratap keluar percuma habis tenaga tiada guna tak ada yang kan […]

Puisi Jansori Andesta: Kata Membunuh Kata Tumbuhkan Kata

Puisi Jansori Andesta: Kata Membunuh Kata Tumbuhkan Kata

KATA MEMBUNUH KATA TUMBUHKAN KATA Puisi Jansori Andesta  kata membunuh kata tumbuhkan kata hadirkan makna dalam pencarian hidup jalan pujangga di sambut hujat gelimang harta tak hendak terjeda tertancap kukuh pada kediriannya kemarin, hari ini, besok dan lusa selalu sama tiada ubah bait-bait menggema kata-kata meronta meninggi angkat suara kuburkan sudah janji-janji tak terangka tiada […]

Puisi Jansori Andesta: Masih Melihat dan Mengingat Engkau

Puisi Jansori Andesta: Masih Melihat dan Mengingat Engkau

MASIH MELIHAT DAN MENGINGAT ENGKAU  Puisi Jansori Andesta dalam sakit yang kurasakan aku masih melihat dan mengingat engkau Indonesiaku: kau yang mengalami kerapuhan rantai persatuan terombang ambing di tengah lautan seperti onggokan pulau tiada bertuan kacau berantakan hampir tiada lagi keselarasan hidup yang tak lagi sepadan dengan penampakan sudah terlalu berat dengan pengkastaan derajat antara […]