Tag Archive | Kalimantan Selatan

(Mimbar Indonesia, 1951) Puisi Ansari: Sombongnya dan Perbuatannya

Puisi Ansari:  SOMBONGNYA DAN PERBUATANNYA Sombongnya semula “Mau bela nusa dan bangsa!” Setelah “merdeka” (– untuk mereka saja) Mereka serbu rumah rakyat jelata Mereka hantam gerakan Patriot Bangsa Mereka kikis habis kekayaan negara Mereka bela mati-matian “bekas” penjajah bangsa Mereka ribut rajin mengisi kantong mereka Sombongnya semula, hebat! perbuatannya? presis jendral kolonial……! (Amuntai – Kalimantan […]

(Mimbar Indonesia, 1951) Puisi Rawan Hiba: Tidak Ada!

Puisi Rawan Hiba: TIDAK ADA! Jangan teman: mencari bahagia di maya pada sekarang Mesti di samudera perjuangan Nan luas terbentang Ta’ ada satu makhluk Yang dapat mencari rahasia alam …….. hanya ada satu jalan Yang ia panjang membentang Mengisi hatimu sendiri Di mana dapat menggirang orang Dalam sajakku…… Sering kukutuki diriku Kupandang alam…. Sepi …… […]

(Mimbar Indonesia, 1951) Puisi Achmad Marlim: Sindiran untuk Pemimpin

Puisi Achmad Marlim: SINDIRAN UNTUK PEMIMPIN  Sedari pagi tadi….. Si Kurik ini, berkotek ribut mencatakan ke sana ke mari bahwa ia mau bertelur dan si jago ikut ketakut-takut, gembar-gembor keluar sangkar ributnya, bukan kepalang lagi biar semua sama mendengar si Kurik ‘lah bertelur kujenguk ke sangkarnya yaaaa, hanya sebiji saja … ! Lain makhluk…. itu […]

(Mimbar Indonesia, 1951) Puisi M Jusran Js: Damai dan Bebas

Puisi M Jusran Js: DAMAI DAN BEBAS Aiiiih, perang lagi…. tambah berkobar-kobar minta korban, tenaga, nyawa Hei, manusia! mau kemana ini? Cinta damai atau cinta binasa? Cinta sejahtera atau cinta derita? Ayolah, ayo!!! Berjuang untuk damai Damai Abadi bebas dari derita sengsara!! (Rantau – Kalimantan Selatan) Sumber: Mimbar Indonesia, Nomor 3 Tahun V, Hal. 31, […]

(Indonesia, 1957) Puisi Arthum Artha: Konsepsi Jauh

Puisi Arthum Artha: KONSEPSI JAUH Dia memperlihatkan padaku suatu rencana indah tapi silaukan mata o, adalagi dewan darah manusia di atas otak tak tulisan dibikin sesama manusia Bila bulan dan harapan banyak orang dan kedatangan pembesar pada hari pesta ada halhal yang menggelikan kesuraman citahidup yang memuntahkan hati Disodorkan juga konsepsi ini: sang rakyat kehilang […]

(Indonesia, 1957) Puisi Arthum Artha: Perwakilan Peralihan

Puisi Arthum Artha: PERWAKILAN PERALIHAN – Kepada Wakil rakyat – Padat bicara-bicara dan keras keras di persidangan, membual? Kelakuan, kezaliman, keterlaluan juga kebalauan kerja mual, karena pekik rencana saja Ke persidang dan ke pekerja menunggu uang, tunggu terus dan pemerasan di pinggir jalanan, lumayan Oweh, ini wakil rakyat tidak juga memberi keseimbangan kami kami yang […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Indonesia

Puisi Murya Arta*): INDONESIA Angin penghabisan dari pantai laut selatan mengheningkan cipta bagi segala pejuang keraguan telah mati kesangsian hilang persatuan di atas kebangsaan meluap ke atas meninggikan derajat bagi tanah air lalulah musafir yang hanya menangis Lihat! fajar tiada lagi telah tiba giliran matahari beraja di kota siang penuh kesabaran dan ketabahan melawan awan […]