Tag Archive | Kalimantan Selatan

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Sebuah Lagu

Puisi Murya Artha SEBUAH LAGU Pernah si burung layang-layang berganti sarang di bawah atap daun anak ayam masih berkutik saja bintang hanya seminar di awan-awan Di balik layar, nelayan mengusut dada perut nyalakan meluap dahaga ombak menderu dan membanting keras keroncong perut seperti: babi kena pijak gajah Boleh banyak orang bertanya jawaban manunggal rasa kasihan […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Kawan

Puisi Murya Artha KAWAN Aku sudah memberi obat bedil dan sendawa cukup perang tanding, malah kita lalui: Cuma hari ini kita menyusun arsip baru, arsip kemenangan seimbangan anggaran negara kita, setingkat naik ke bintang dan telah menjulang di garis tinggi yang ketujuhnya selapis lagi nyata kesatuan segala perbuatan kebangsaan satu di atas ajaran cita-cita kedaulatan […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Juita

Puisi Murya Artha JUITA Rapat kita dalam pleno kemarin dan rencana Ketua adalah keputusan dari rapat 1945 waktu 17 Agustus 4 tahun yang berdarah sejarah hari kita kupas sebab musababnya sampai pada akar serabut sampai pada akar kezhaliman biarkan putus, satu demi satu; kita harus demokrasi menggagah Lintaskan ini perkara buruk dan jijik itu buangkan […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Rapat

Puisi Murya Artha RAPAT Diantara para pemegang peranan rapat-rapat, ditengah adanya pertempuran kegesitan revolusi kita banyak daging yang mati menimbun tanah-tanah lekang seakan dunia ini tidak cukup kurnia Tuhan dan selalu kekurangan alat menutup lubang-lubang. Sumber: Majalah Siasat, Nomor 171 Tahun IV, 18 Juni 1950. *) MURYA ARTHA, dilahirkan di Desa Parincahan, Kandangan, Kabupaten Hulu […]

(Siasat, 1950) Puisi Murya Artha: Ach

Puisi Murya Artha ACH   Perduli apapun waktu itu sudah usai bagi kita penggerak menggugah keadaan baru rapat baru harus dirobah cepat-cepat merombak giliran kita surya wirawan hidup kembali. Boleh juga, kita membangkit dan mengikuti ideologi lain untuk sementara kisaran masa yang membuncah dan boleh pula kita merobah sikap kita asalkan pedoman abadi bagi negara […]

(Siasat, 1951) Puisi Arthum Artha: Kita Kembali, Kita Pulang

Puisi Arthum Artha*): KITA KEMBALI, KITA PULANG Mengisi jarak diantara sajak: Suradinata & Sudarto (Sum – Bachtiar) RUMAH….. yang ditinggalkan bagi Sum dan ibukota senja untuk Sudarto lama lagu itu berlepasan hanya mendengar melengos pergi berjalan terus anggut percuma bila: rumah yang ditinggalkan di-ibukota senja bosan ribut akibat klakson malas menepi mendaki gunung…. Memang unggas […]

(Siasat, 1951) Puisi Arthum Arta: Khatulistiwa

Puisi Arthum Artha*): KHATULISTIWA Pada hari-hari panas yang lalu dan mendatang. ada sekarang tiba giliranku – kasih penjelasan dalam keadaan di bawah sinar khatulistiwa di jarak datarmaya dan langit Sekarang tumbuh giliranku kasih penjelasan dari penjelmaan hidup – orang kedua dari laut lumpur berbau – tidak harum, cuma bintang kasih pedoman Ini di bawah bulan […]