Tag Archive | Kirdjomuljo

(Zenith, 1954) Puisi Kirdjomuljo: Maret Lima Empat

Puisi Kirdjomuljo: MARET LIMA EMPAT Sampai malam kemarin Bulan masih lewat Masih kuning sedikit merah Di tengah masih seperti beringin tua Dari sabit lalu purnama Lalu sembunyi sebentar hari Bulan depan Kembali di ujung cemara Lewat Pergi Hilang Dan kembali, Begitu Dari sebelah halaman Ada bayi menangis Gadis menghitung hari dengan jari Itu yang kujumpa, […]

(Budaya, 1953) Puisi Kirdjomuljo: Menanti Kilatan Bulan

Puisi Kirdjomuljo MENANTI KILATAN BULAN Pengalaman seorang pelukis dalam sel tahanan Dalam kegelapan mata hendak lebih terang Dalam kepisahan cinta hendak lebih dalam Malam itu Bayangan bulan bermain di depan mata Tetapi bulan yang bulat Aku telah dipisahkannya Aku hendak lihat bulan Kebengisan manusia menghalangi Dibunuhnya cinta yang hidup dalam jiwaku Tetapi cinta mana hendak […]

(Merdeka, 1955) Puisi Kirdjomuljo: Jalan Ubud

Puisi Kirdjomuljo: JALAN UBUD Begitu ia menyimpan rahasia Hijau memberat Sunyi mendalam Begitu ia menyimpan peristiwa antara hati dan bunga antara benar an dahaga Dahaga akan kebenaran lain dahaga akan darah dahaga akan dendam Satu yang meninggal mengesan di lereng aku tak mampu mengenang Serupa kemboja diantaranya telah begitu sunyi begitu tak berdaun Dan entah […]

(Merdeka, 1955) Puisi Kirdjomuljo: Penari

Puisi Kirdjomuljo: PENARI Aku belum bertemu dalam ujud tapi sudah begitu menikam Entah buat berapa kali ia kehilangan cinta gugur anak kandungan gugur alam di hati gugur alam lupa Tidak kuduga atas kematian ia berdiri dan menari dan menari Tidak kurasa atas kehilangan ia menari dan menemukan alam lain Seakan tak ada duka lebih dari […]

(Merdeka, 1955) Puisi Kirdjomuljo: Pesawahan Sanur

Puisi Kirdjomuljo: PESAWAHAN SANUR Begitu umur, disaat tak menolak alam tak menolak waktu Melempar tubuhnya bulat-bulat ketengah-tengah, sejauh-jauhnya menerima wajah sebagai hati menerima hati sebagai diri langsung tak membayang tanah langsung tak membayang duka Hijau daunan pada hatinya Sumber: Majalah Merdeka, Nomor 51 Tahun VIII, 17 Desember 1955, halaman 26

(Merdeka, 1955) Puisi Kirdjomuljo: Dahaga Tanah Pasir

Puisi Kirdjomuljo: DAHAGA TANAH PASIR Begitulah derak hati makin jauh menjumpakan alam makin terasa menjadi dahaga makin jauh menjumpakan diri makin terasa menjadi haus berpusar ke segala arah mencecap dan mencecap mengidap dan mengidap hanya satu tak terlukiskan di saat titik pencapaian cairlah seketika terasa lahirnya terasa hadirnya Sumber: Majalah Merdeka, Nomor 51 Tahun VIII, […]

(Merdeka, 1955) Puisi Kirdjomuljo: Duka

Puisi Kirdjomuljo: DUKA Di ujung malam orang hendak melupakan duka Kemana duka akan terlempar datangnya serupa hari serupa ada serupa tak ada Majalah Merdeka, Nomor 51 Tahun VIII, 17 Desember 1955, halaman 26

(Mimbar Indonesia, 1954) Puisi Kirdjomuljo: Nyanyian Sunda

Puisi Kirdjomuljo: NYANYIAN SUNDA Lewat tengah hari Menjuruk ke dasar hati Sekelumit nyanyian Sunda Terasa bicara “tinggallah teman, Buatlah rumah di sini” Hampir aku tak pulang Kepengin membuat villa Akan menyimpan Kelumit nyanyian sunda Tembang menghilang Datang kerusuhan Di jogja banyak hutang Sumber: Majalah Mimbar Indonesia, Nomor 1-2, 13 Januari 1954, halaman 19

(Mimbar Indonesia, 1953) Puisi Kirdjomuljo: Jalan Braga

Puisi Kirdjomuljo: JALAN BRAGA Di atas rumah batu Ia terlentang Mayat sudah Hendak kuambil – Penjaga bersenjata Masih ingin membuat mayat lagi Di rumah batu pilu Di dusun gubuk beku Di mana lagi – Menunggu musim semi? Berikan perlawanan  di musim kini. Bandung, 26-29 September 1953 Sumber: Majalah Mimbar Indonesia, Nomor 50 Tahun VII, 12 […]

(Budaya, 1952) Puisi Kirdjomuljo: Serenade

Kirdjomuljo: SERENADE Sore hari ini, riang – segar dan lincah Sealun lagu – belum pernah kudengar melanda keningku Datang dengan kedua belah tangan nadanya Satu menjamah dahi, satu menggamit bibir dahaga Menantang pandangku, bertanya dan berkisah “berapa lamakah kamu hendak tahan Mengembuskan nafas yang tiada berlagu” Menyelesaikan karangan bunga pada senja hari Tetapi tiada mengalungkan […]