Tag Archive | Kumpulan Fiksi

Puisi-puisi Simon Hate: Buronan

Puisi-puisi Simon Hate: Buronan

  JEMBATAN PENGHABISAN   Puisi Simon Hate Masihkah ingat kau jembatan di mana kita penghabisan kali bertatapan? Aku kini tak mungkin kembali dan berharap kau tidak lagi menanti. BURONAN  Puisi Simon Hate Kuamati hari yang mulai tenggelam dan di tikungan malam pun lalu menjemput kabut musim hujan. Di halaman, tak lagi terdengar suara anak-anak berkejaran. Bagaimana […]

Puisi-puisi Okti Muktini Ali: Mata yang Diam-diam Menatap

Puisi-puisi Okti Muktini Ali: Mata yang Diam-diam Menatap

  IBUKU Puisi Okti Muktini Ali Ibuku adalah angin Ibuku adalah api Ibuku adalah air Ibuku adalah tanah Dia ada dan berada Di mana-mana Di laut di langit Di lembah dan gunung-gunung Di dalam semua kekuatan Ketegaran kelembutan Dan muara kasih Aku mengada di gua garba Kenangan ibuku Imananen dan transendent Sebagaimana Dia Dalam diriku […]

Puisi-puisi Okti Muktini Ali: Mesuji, Apalagi yang Mesti Engkau Teriakkan

Puisi-puisi Okti Muktini Ali: Mesuji, Apalagi yang Mesti Engkau Teriakkan

  LELAKI YANG MEMBAKAR DIRI DI DEPAN ISTANA Panasnya api tak lagi kau rasa Merah darahpun tak lagi asin dan punya warna Semua hangus bersama bara juang Kepasrahan, semangat yang begitu nyata Terlahir di negri yang terus-menerus terbakar Kau pilih menjadi martir baginya Yogyakarta, 18 Desember 2011 MESUJI, APALAGI YANG MESTI ENGKAU TERIAKKAN  Ketika mesiu […]

Puisi-puisi Okti Muktini Ali: Malam

Puisi-puisi Okti Muktini Ali: Malam

Puisi-puisi Okti Muktini Ali   BUNGA BERINGIN Bagai satria dari Osaka Memegang sebilah pedang bermata dua Tepekur diam dipojok sebuah gedung tua Sasana Hinggil Dwi Abad Jogjakarta Gerahammu terkatup  rapat Seolah sedang menghujam semua musuh Sorot matamu luluh lantakkan semua petualang Yang singgah di Alun alun Selatan Dan ketika kulewat Di senja temaram itu Kau […]

Puisi-puisi Okti Muktini Ali: Episode Kaliurang

Puisi-puisi Okti Muktini Ali EPISODE KALIURANG   Senja temaram berliput kabut hitam Dalam dinginya hujan gelegar badai dan gulungan air bah Hingga gelap pekat hilang pandang hilang arah hilang asa Sukacita gembira berubah  banjir air mata Kubergayut pada pinus rapuh puncak merapi Berzikir dan berguman dalam ketegangan tingkat dewa ”Mati, tidak, mati, tidak…” ”Tuhan, di manakah […]