Tag Archive | Mahatmanto

(Mimbar Indonesia, 1951) Puisi Abu Chalis/ Mahatmanto: Cinta dan Para

Puisi Abu Chalis/ Mahatmanto: CINTA DAN PARA Di sini aku mulai melihat harapan pertama di negeri cinta dan para Kulihat kembali cinta yang dulu dikuburkan ibuku bersama darah beku yang kubawa serta ketika aku dilahirkan ke dunia Sekali ini baru kudengar wanita menjerit tertawa melihat muka baru yang lama baru dikenal namanya Dan banyak gadis […]

(Mimbar Indonesia, 1951) Puisi Abu Chalis/ Mahatmanto: Buta dan Kesangsian

Puisi Abu Chalis/ Mahatmanto: BUTA DAN KESANGSIAN Buta bersatu dalam gelap – mari kubimbing menuju timur ke kesiangan yang terang – Aku menurut kemana saja dibawa jatuh bangun berjalan Fajar memancar mata meraba sinar semua jadi gilang temerang Kulepas tangan itu yang jadi begitu malu dan pergi sembunyi Cis, aku menyumpah Kau telah mengelabui mataku […]

(Pantja Raja, 1947) Puisi Mahatmanto: Putaran Bumi

Puisi Mahatmanto*: PUTARAN BUMI Ya, seperti pula kata kiai tiada semua dibenarkan Tuhan. Bumi melayang sepanjang cakrawala bagai buaian berayun melingkar sirkel. tidak berbalik bahkan tiada tertegun sekejab mata. Selama para pujangga belum kuasa melaksanakan isi keindahan kata-katanya sebelum terus-terang berani mengakui kekosongan mimpi yang ‘tak tercapai selama itu, bumi berputar jua dengan gigi-gigi loba […]

(Pantja Raja, 1947) Puisi Mahatmanto: Kepada Pujangga Dunia

Puisi Mahatmanto*: KEPADA PUJANGGA DUNIA Seperti burung laut, dengan liurnya dibuatnya sarang permai di gua, di tubir pantai tempat diam terletak telurnya tempat pecah merekahnya, melahirkan isinya tempat anaknya menciap-ciap: berharap, datang orang mengambil sarangnya, untuk obat, khasiat mereka demikianlah, Pujangga Dunia engkau, dengan perkataanmu, kau gubah ciptaan indah, tempat tersemat perasaan hatimu membual, membersit, […]

(Pantja Raja, 1947) Puisi Mahatmanto: Bulan Bebas

Puisi Mahatmanto*: BULAN BEBAS Kau katakan disangkup awan, sedang ia di cakrawala, bebas…….. di celah daun, pada hal ia di langit luas. Rasakan berjalan, melampau gumpalan awan Sedang arahkan mega-mega berlari-larian. Bukan bulan. Tersenyum mengejek bulan bersinar, kepadamu, Tiada tergolek, tetap di langit biru. Selalu…….. Catatan: Penulisan ulang dengan penyesuaian bahasa, tanpa mengubah susunan Sumber: […]

(Pantja Raja, 1947) Puisi Mahatmanto: Kepada Pujangga Baru

Puisi Mahatmanto*: KEPADA PUJANGGA BARU Potongan lama atau baru, mana yang disukai, akan terpakai selagi masih tetap berwujud pakaian Tubuhnyalah yang tertentu yang memakai, bukan yang dipakai Hendaklah tegap kuat senantiasa Semua baru, tiada kuasa mengarungi arti gaya lama. Pakaian baru potongan lama, lebih berharga dari potongan barunya bekas rombengan Hanya terletak pada arti; Aksi […]

(Pantja Raja, 1947) Puisi Mahatmanto: Dari Kota

Puisi Mahatmanto*: DARI KOTA Teman sepermainan selagi kecil teman mengaji di surau kiai university zaman bahari Sekarang datang membawa mobil pulang le kampung menjelang ibunya yang dicintainya. Aku menepi ke sisi jalan, memanggul pacul, perlahan. Aku menunduk, dia mengangguk dengan tertawa hambar Terhambur percik air di jalan dilanda ban roda menampar bajuku kumal bertabur lumpur. […]