Tag Archive | Mahbub Djunaidi

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Satu Anjuran

Puisi Mahbub Djunaidi: SATU ANJURAN Bergabung dengan hari-hari yang mendung Kutempelkan plakat-plakat di langit Mengabarkan bah yang berketerusan Apa yang ada – dan kau juga Akan tenggelam timbul dengan nafas satu jengkal Tapi jangan anteng begitu Kau lihat desa sudah kelabu Sore ini anak petani tiada beribu Satu satu patah Yang lain dengan tiada bumi […]

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Cerita Hari Ini

Puisi Mahbub Djunaidi: CERITA HARI INI Malam sekarang banyak rumah-rumah yang terbakar Lolong anjing – bahwa hati jadi lalat beterbangan Langit terbuka seluas-luasnya Dan kemanusiaan lari kebalik balik akal seribu Anak anak muda memandang kekasih Persetan pada kegelisahan Hari malam – merasa turunlah Piala minuman penuh bertumpahan Pagi turun, seperti pekikan yang redup Persetan kebahagiaan […]

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Malam Emas

Puisi Mahbub Djunaidi: MALAM EMAS Sebagian pintu sudah mulai terbuka Mengelus elus angin kebiruan luas di ujung mata Ruangku begini sempit melihat bintang satu per satu Ruangku begini sempit Memuat tanya jawab beribu Menganga bumi bara api malam Teriakan menghabiskan suara Dia berjalan dan berhenti sendiri Percaya tiada mungkin lancar ke ujung Tapi aku jatuh […]

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Keperdamaian

Puisi Mahbub Djunaidi: KEPERDAMAIAN Dibukakan pintu subuh kelabu Kuncup semangat yang dilahirkan sehabis bintang habis menari Sinar sampai di sini lalu semangat merayap di batu Panas-panas Tumbuh terus di muka tanah cerah dan merah Peringatan beserta pembawaan Kepada segala di detik-detik sesudah ini Tiada dia mau ke gelanggang kepanasan Segala kuncup menjadi tunduk Melukis garis […]

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Oleh-Oleh Buat Pemetik Teh

Puisi Mahbub Djunaidi: OLEH-OLEH BUAT PEMETIK TEH Kehijauan dalam hatimu Dipinggir pinggir pagi yang terbungkus Embun ditinggalkan malam Seperti kuda-kuda menaiki bukit batu Mencucur peluhnya putih Di perut pegunungan kau bersuara seperti biasa Memenuhi umur siang Hijau dan kaya Kau sendiri dengan selendang merah mengelus-elus keletihan Lalu malam mengetuk pintu dengan kecapi yang berdentingan Mnidurkan […]

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Gunung Biru

Puisi Mahbub Djunaidi: GUNUNG BIRU Pembawaan lambang perlahan-lahan Ke ujung gunung biru Daripada tembak dahulu kala di sisinya Diikuti pukulan genderang perlahan sekali Mengingatkan kekejaman burung-burung gagak Hati yang patah daripada tubuh tunduk tersungkur rubuh Dada yang mengembang lebar Hanya ada emas di hatinya sendiri Kebiruan langit dan lambang yang berkebat di tangannya Tanda kemenangan […]

(Siasat, 1952) Puisi Mahbub Djunaidi: Pertemuan dan Perpisahan

Puisi Mahbub Djunaidi: PERTEMUAN DAN PERPISAHAN Dalam suatu sepi yang bermimpi Aku pulang dari pesta wajah separo bulan Diam segala. Aku yang melayang angan Ingat muka – ingat aku sendiri Buta dari buta hatiku Mau saja melempar batu dari kaki laut ke puncak mana atau mengubur diri atau lari ke api “Engkau ini memang tidak […]

(Majalah Siasat, 1952) Puisi Mahbub Djunaidi: Gadis Main Piano

Puisi Mahbub Djunaidi: GADIS MAIN PIANO Kenangan di Aula SMA 1-B Mengembang bulan di langit kelabu Gadis asyik bermain sendiri Di luar kemuning gemersik lagu Membuat irama gadis meninggi Datang nyaring lagi Kududuk sambil meraba aku Terasa hati ingin memberi Alangkah nyaman malam yang laju Tangannya datang dan pergi Bikin irama-membakar di dada Membawa aku […]

(Majalah Siasat, 1952) Puisi Mahbub Djunaidi: Urung

Puisi Mahbub Djunaidi: URUNG Cerita orang gagal Aku tak mau dilihat lagi Tawa penghabisan menutup cuaca Turun keputusan – meraba jantung jadi batu Kusangka juga kegagalan sempat bertahta Kupekakkan telinga dari nyanyi mereka Terus melagak kedekapan teluk mutiara Tinggalkan aku bersunyi dari derapan tawa Sampai tangan basah lagi dan segar dan menyala Beri aku kenang […]

(Majalah Siasat, 1952) Puisi Mahbub Djunaidi: Doa

Puisi Mahbub Djunaidi: DOA Demi malam Aku seorang yang sedang tertidur Tilam duri dan kesepian senda Demi malam Mana bintang mana cahaya Gadis jelita lagi tertawa Demi malam Mana, kepastian baru Kepala ini rindukan pulau Demi malam Semakin kuyup aku Dalam laut punya sarang Demi Tuhan Beri aku daya Untuk bangun – untuk bicara Demi […]

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Hari-hari di Musim Panas

Puisi Mahbub Djunaidi: HARI-HARI DI MUSIM PANAS Landai tanah tiada bertopi Bendungan air gemuruhnya sepi Merayaplah tiap tumbuhan merayap Gemuruh tiada ‘kan sampai tepi Kusingkaplah tabir Teratak pojok empat menyongsong langit Perawan bersimpuh jela-jela rambutnya Mimpi hari yang datang Kenang hari yang lusa Heranlah sempat menjangkau apa Yang disebut waktu lari-cinta Derum sampai di sini […]

(Siasat, 1953) Puisi Mahbub Djunaidi: Sandiwara

Mahbub Djunaidi: SANDIWARA   kenanganku pada warna putih – tebaran mega yang melawat ke ujung rambutnya – Di pangkal tahun, di permulaan musim panas Berdiang tubuh, amatlah nyamannya Citapun bersemi dan pecah tigaempat Yang lain menyingkap jendela Oh, jangan salahkan badai-badai Matamu sendiri bagaimana Jam tujuh langit menjadi merah Kau buka baju dan siang menjadi […]