Tag Archive | Motinggo Boesje

(Membimbing, 1955) Puisi Motinggo Boesje: Kamar

Puisi Motinggo Boesje: KAMAR Buat album Eny d fonni antara tingkap loteng batas dua jendela persiapan kertas hangus rabu dan jaring labalaba sekeliling tawa keras si gadis mengetuk pintu serta mata penuh tanya semalaman kutunggu kau sampai ia larut membatas kelesuan lampu dinding kepandangan cerita jemu album kotor sekali dibuka tali rabu putusputus putusputus, ketibaan […]

(Siasat, 1954) Puisi Motinggo Boesje: Malam Putih

Puisi Motinggo Boesje: MALAM PUTIH ada terasa bebas setelah segala menjadi abu ada terasa sakit setelah hati dibelah sembilu ada terpancang bulan menjadi cerah: bintang jadi terang ada terpancang di hati: nyanyi merdu akan datang. Ada yang takpernah kulihat: malam sejernih ini. Sumber: Majalah Siasat, nomor 378 tahun ke VIII, 5 September 1954, halaman 26

(Membimbing, 1954) Puisi Motinggo Boesje: Angin Tiada Berembus

Puisi Veda Motinggo Boesje ANGIN TIADA BEREMBUS Musim-musim telah mengabadikan bunga-bunga yang, sepagi ini akan tumbuh di tepi pantai sunyi. Lalu datang angin melanda bunga di tepi pantai sunyi. Angin yang lagi bicatara tidak apa-apa atau sampaikan pesan, basa bunga telah mati, telah mati di pantai sunyi. Angin kini mati, di pantai kematian kabar dari […]

(Membimbing, 1954) Puisi Motinggo Boesje: Yang Dilanda Kekalahan

Puisi Veda Motinggo Boesje YANG DILANDA KEKALAHAN Buat Kekasih: Pinta Yang dilanda kekalahan, itulah aku. Yang kini tiada bisa bikin bicara apa-apa. Yang dulu telah kuberi sedetik tanda harapan, tapi kekalahan juga yang mendatang? Embun yang jatuh satu-satu, tiada lagi memberi sedetik harapan untukku, untukmu! Atau kelah datang matari yang keras. Juga cuma tiada apa-apa. […]

(Budaya, 1957) Puisi Motinggo Boesje: Jalanrata ke Pegunungan

Puisi Motinggo Boesje: JALANRATA KE PEGUNUNGAN Tinggal engkau pelabuhan dalam isi suaramu aku menyelam pada kota yang bernafas panas dinamanama jalan, dilampusenja kelian berdiri pandang menendang kepadaku lupakan aku lebih jauh lagi, manis kerna aku harus pulang ke tanahibu kita berjumpa, kita berpandang memandang tapi suaramu alit yang merobek dadaku, kita berjumpa, daku luka, kau […]

(Budaya, 1957) Puisi Motinggo Boesje: Kota Kami Dahulu

(Budaya, 1957) Puisi Motinggo Boesje: Kota Kami Dahulu

Puisi Motinggo Boesje KOTA KAMI DAHULU takkukira, kukira kaliku sudah takdisitu lagi kita lama saling terendam sampai lumpurnya jika kau belum lupa pada anakmu sebesar siapa ia kini kuburan duka di sana, merambati hatinya adalah kerna masih ingat padamu, aku pulang melihat simanis menyanyikan nafas, yang tewas dan jalan ke rumahmu runtuhnya dalam, sayang ketika […]

(Budaya, 1956) Puisi Motinggo Boesje: Linggau Malam

Puisi Motinggo Boesje: LINGGAU MALAM ketika aku akan pulang terpaksa aku tanyakan hati segala yang terbetik dari lautbirunya liarnya kehidupan berpotret dirisendiri dalam nisannya yang teduh ia akan dibuang kelak ketanahasing tercintanya. sial berkata-kata memulangkan nyanyian gadismu di dalamnya lahir orang-orangan yang dilupakan orang karena ia, ia lupakan dan dilupai kekasihnya berkaca dibeling hitam wajah […]