Tag Archive | Muhammad Ali

(Zenith, 1951) Puisi Muhammad Ali: Surat Dari Daerah Mati

Puisi Muhammad Ali: SURAT DARI DAERAH MATI Maha kejadian Aku sekarang titisan cinta pertama anak yang lari dari kurung ketika dari dekapan dongeng pusaka ke dunia mau bicara Akulah kekasih bintang dan bumi Dan kalau kemari malam merengut menyebar kelesuan dan mimpi jahat akulah pendekar gurun gelita pasir berderai merangkul bayangan: Karim! Karim! Cahya dari […]

(Zenith, 1951) Puisi Muhammad Ali: Catatan Harian

Puisi Muhammad Ali: CATATAN HARIAN Kepada kawan seperjalanan Djono kita pilih rumah ini: terongko sepi, sampah mati demam dan sedikit manisan dan marilah kita mulai melukis corak bendera buat kerajaan tenggelam di hari nanti antara kita – lumpur dan kilat – tidak lagi saling mengerling kau isap darah ibuku dan lusa kuludahi kain kafanmu aku […]

(Zenith, 1951) Puisi Muhammad Ali: Orang Yang Hilang

Puisi Muhammad Ali: ORANG YANG HILANG Kalau botol-botol kosong telah lesu bergelimpangan Mulut kering mulai mengeluh Ah, brendi habis…… Dan lidah-lidah patah membisikkan: Hidup ini mimpi! Serentak kepala orang-orang mati bersembulan dari dalam kubur Buat lolong panjang terakhir Memanggil kembali cinta yang pergi Tapi daratan sudah jauh Bulan bintang semua mati Cakar basah darah kekasih […]

(Pudjangga Baru, 1949) Puisi Muhammad Ali: Malam Kemarau

Puisi Muhammad Ali MALAM KEMARAU Tergerai rambut orang gila diam-diam mengusir samar. Anak katak kehilangan ibu menangis memanggil hujan Cengkerik terdiam kecewa. Rumput kering kemalu-maluan. Aku bersama kupu-kupu hinggap ke sudut gelap tenggelam dalam keringat tajam campur bau melati rusak. Sumber; Majalah Pudjangga Baru, Nomor 4-5 Tahun XI, November 1949, Halaman 114

(Budaya, 1953) Puisi Muhammad Ali: Mendung

Puisi Muhammad Ali: MENDUNG oh, jangan datang jangan datang hari aku mesti berkata: (lewat mulut atau mata tiada serupa mata) aku cuma segenggam debu hilang lagak hilang lagu malam begini larut, di pinggir laut sajak-sajak duka mengalir terus dalam iringan gelas berisi noda… mencambuk dahaga: kunang-kunang hilang pada kerlip pertama dan bila aku bunga bakung […]

(Budaya, 1953) Puisi Muhammad Ali: Hati

Puisi Muhammad Ali:  HATI malam tawar menarik bujang berkumis licin keluar rumah tua bercerobong asap mengepul jam-jam percuma becak merangkak hati mengeluh bintang menjauh Sumber: Majalah Budaya, Nomor 10/11, Oktober/November 1953, halaman 43

(Budaya, 1953) Puisi Muhammad Ali: Minggu

Puisi Muhammad Ali: MINGGU sepatu-minggu-ku kotor tiada berkilat lagi dan lemon jerukku amis bau darah bayi aku sepi sendiri di pusat kota bernafas sejuta jantung dan hati dan di mana saja, tentu ada Tuhan dan sedan Sumber: Majalah Budaya, Nomor 10/11, Oktober/November 1953, halaman 43