Tag Archive | Nanang Rusmana

Puisi Nanang Rusmana: Sujudku Pada Angin, Cintaku Pada Penguasa Angin

Puisi Nanang Rusmana: Sujudku Pada Angin, Cintaku Pada Penguasa Angin

SUJUDKU PADA ANGIN, CINTAKU PADA PENGUASA ANGIN :pada angin  Puisi Nanang Rusmana Angin mengubah wujudnya, saat kutelanjang di belantarakota, tanpa sehelaipun benang tersimpan di tubuhku, senyum yang selalu membius rasa, hilang tanpa belas kasihan. Pedangmu tebas leherku dan pundakku, kuliti tubuh padahal aku telah bersimpuh. Belulangku kau lantakkan di jalanan lalu kutanya, kenapa? Haruskah kusujud […]

Puisi Nanang Rusmana: Tak Kan Kulewatkan

Puisi Nanang Rusmana: Tak Kan Kulewatkan

TAK KAN KULEWATKAN Puisi Nanang Rusmana Pun di balik resah angin meniup dedaunan kering ,reranting menyapu tanah merah, persis saat kau letakan kertas merah dan membuangnya di saat ku ingin sapa. Terbata.  Kau letakan jadikan sampah. Namaku masih teracik di helai merahmu. Kini kusenyumkan mukaku memanggilmu dalam dalam sambil menatap. Entah . Sudah keberapa kali kulewati […]

Puisi Kolaborasi Nanang Rusmana – Lukisan Tanpa Bingkai

Puisi Kolaborasi Nanang Rusmana – Lukisan Tanpa Bingkai

Lukisan Tanpa Bingkai Puisi kolaborasi nanangrusmana & ella ite Ung #27 July# Gerhana di tengah kota kemarin petang, membingkai seribu warna yang kian tak nyata ada, pun di balik seribu resah meruah kota, dinding bata tetap lah tegar batasi suarasuara pekakan rasa yang hilang ditampar tumpukan jerami kotor dan siap membakar. Elang hitam melayang tanpa […]

Puisi Nanang Rusmana & Iin Syah – Ketika Bulan Mencair di Garis Batas Pelangi

Puisi Nanang Rusmana & Iin Syah – Ketika Bulan Mencair di Garis Batas Pelangi

Ketika Bulan Mencair Di Garis Batas Pelangi  Puisi Kolaborasi: Nanang Rusmana bersama Iin Syah Bukan pada malam berjalan. Hanya sapa seadanya saja. Kataku katamu katanya terpapar kemana ke langit ke semua, ke semua. Berpendar seperti warna, apa, pelangi bukan ? Tengoklah, ada disana tertulis. satu permintaan, satu saja. Dan takdir menuntunmu menuju hujan abu yang […]

Puisi Nanang Rusmana: Aku dalam Diri Membalut Wajah

Puisi Nanang Rusmana: Aku dalam Diri Membalut Wajah

AKU DALAM DIRI MEMBALUT WAJAH  Puisi Nanang Rusmana Aku berjalan dalam jalanan yang tak layak punyai nama jalan sebab tak ada lagi ruang tersisa untuk sang kaki susuri tapak perjalanan Aku berdiri di tanah yang tak bisa membuatku berdiri tegak lalu lantangkan suara , hei ! Aku Ada di atas tanah keras  bukan rawa rawa […]