Tag Archive | P Sengodjo

(Siasat, 1952) Puisi P Sengodjo: Bujang dan Pokok Lukisan

Puisi P Sengodjo: BUJANG DAN POKOK LUKISAN Pada bidang-bidang (kesatu dan kedua) diproyeksikan segala titik-titik Jangan ada yang kelewatan tidak perlu kesusu dalam membikin soal ini. Lagi keseksamaan (dan kebersihan) dan itu bukan sesuatu yang menjerakan dengan hati yang tenang yang mengatasi waktu tiap titik iproyeksikan pada bidang-bidang dan tidak ada yang kelewatan Sumber: Majalah […]

(Zenith, 1952) Puisi P Sengodjo: tt.H (2)

Puisi P Sengodjo: tt.H (2) ini negeri dari mega dan bayang-bayang dan pun rakyatnya makan malam dan udara terang cuaca dan bulan di awang-awang dan angin tidak liwat mendesau – belum, karena musim belumlah datang – dan gadis-gadis tidak dendang merayu dan kejauhan tidak menghimbau – dan aku lemas dan aku bebas alam tenang, dan […]

(Zenith, 1952) Puisi P Sengodjo: tt.H (1)

Puisi P Sengodjo: tt.H (1)   Seperti boneka yang ingin jadi manusia Tinggiku satu tujuhpuluh: mau apa! – tapi saya bilang dengan terus terang: Di rumahku aku terpaksa membungkuk lewat pintu –   Jadi: apa mau dikata? Akan kubakar dalam api – – beruntung telah uput aksi bumi hangus – Hingga kau menyesal di kemudian […]

(Zenith, 1953) Puisi P Sengodjo: Keperluan

Puisi P Sengodjo: KEPERLUAN Pelatuk yang rindukan rumah (pertama bersuara – menerotok Mundu kering) Terbang dari arah persembunyiannya (pohon langsat rimbun) Tertimbun selagi relung-relung awan dan bintang angin malam membawa desau (laki-laki tidak punya nama).  Sumber: Majalah Zenith, Nomor 8 Tahun III, Agustus 1953, halaman 454

(Zenith, 1953) Puisi P Sengodjo: Vidi

Puisi P Sengodjo: VIDI Pintu yang didobrak malam hari akan mengisakkan si gadis yang tidur sendiri (Pertama kali adalah bintang dan lelangan ketawa yang pecah sinar berlian) (Menjuru segala muatan keonaran leluasa) di bawah tugu peringatan bersandar diri pada pokok bunga hortensia. Sumber: Majalah Zenith, Nomor 8 Tahun III, Agustus 1953, halaman 453

(Zenith, 1953) Puisi P Sengodjo: Polemik

Puisi P Sengodjo: POLEMIK Wah, matahari terbit lagi dan aku menyangsikan bulan yang kembali ke ribaan malam Kelima bintang dari rasi gubug penceng mengarahkan pandangannya ke arah selatan Gurun yang kita injak bersama membawakan berita – gadis, engkau akan kemana? (Pada saksi pertama dilontarkan puing yang pertama) lihat!  kapalterbang bersembul dari awan. Sumber: Majalah Zenith, […]

(Zenith, 1952) Puisi P. Sengodjo: Mencari Angin

Puisi P. Sengodjo: MENCARI ANGIN Perahu yang melancar di atas kepermaian air yang kemilau dalam cahaya surya bermain – Aku yang merasa tenang dalam kegirangan yang meresap dari pohon di hadapan – Burung yang terbang lalu melayang di atas embusan angin – Aku dan engkau tiada berpandangan lagi, dan alam bebas melepaskan kita berdua – […]