Tag Archive | Pomppy Ceissar S

Puisi Pomppy Ceissar S: Kucing Liar

Puisi Pomppy Ceissar S: Kucing Liar

KUCING LIAR Puisi Pomppy Ceissar S Ku beri makan seekor kucing liar Memahaminya di sela- sela kericuhan mimpiku Bahkan pernah ku berjalan di atas pecahan kaca Agar dapat kenali langkahnya meski tanpa alas Namun tak juga ia melompat menuju lirih di hadapannya Kucing liar malah melukai tanganku yang buta Entah bagaimana bisa tak satu pilihan […]

Puisi Pomppy Ceissar S: Yah

Puisi Pomppy Ceissar S: Yah

YAH Puisi Pomppy Ceissar S Aku seperti batu yang sibuk tegaskan ia selalu keras Bahkan kadang menjadi duri dalam jiwa yang mati Aku adalah puisiku Maka tak perlu kau tulis aku dalam sajakmu Sebab aku tak suka sajakmu Seribu tahun kau bersumpah mampu setia Seribu tahun ku bersumpah menyalahkan kerinduanmu Kau coba menyimpan tanyamu di […]

Puisi Pomppy Ceissar S: Pada Hujan

Puisi Pomppy Ceissar S: Pada Hujan

PADA HUJAN Puisi P0mppy Ceissar S Seperti kertas yang tlah lama menjadi teman keusangan, Musim mengutuk takdirnya menjadi saksi bisu sang waktu Terkapar hingga menguning Rapuh di rekat sarang laba- laba liar Sedang semua cerita cinta belum terungkap Maka biarkan saja hujan miliki kuasa karya di sana Biar luntur tinta di atas kertas Agar lirih […]

Puisi Pomppy Ceissar S – Para Perindu

Puisi Pomppy Ceissar S – Para Perindu

PARA PERINDU Puisi Pomppy Ceissar S Ada warna senja dalam tiap denyut jiwa di sana Begitu indah mereka hempaskan sinarnya memantul jauh ke angkasa Tak jarang mereka mengaku api yang mampu abadi Tak pernah mau mengalah apalagi menunda Sebab bosan ia melihat malam Yang terus menangis dalam pangkuan pengharapan Terus, dan terus menangis menganyam pilu […]

Puisi Pomppy Ceissar S – Ajak Aku Bicara

Puisi Pomppy Ceissar S – Ajak Aku Bicara

AJAK AKU BICARA Puisi P0mppy Ceissar S Saat ku berbicara lewat tinta, ia bilang aku gila Saat ku kenali warna dengan hati, ia katakan lagi aku gila Saat ku abadikan massa di balik lensa tua, ia tersenyum setengah Kemarin siang yang terik, Ia berbaris ikuti alur kota, dan aku diam Ia biarkan imajinya berubah tanpa […]