Tag Archive | puisi

(Kisah, 1955) Puisi Taufiq Ismail: Kemarau di Desa Bangkirai

Puisi Taufiq Ismail: KEMARAU DI DESA BANGKIRAI Seekor anjing melolong larut di lereng bukitbertubir Bulan merah di sungai bulat mengapung. Angus dan pijar Kurus lembah kuning patah dauntebu didukung punggunggunung Melantun bayang tetes pancuran: tubuh jerami merapuh Malam ramadhan dinginnya menusuk ke hulu tubuh Kemarin tengah hari udara meleleh dipadangpanjang Kerbau si-Sati, kambing coklat mengahngah […]

(Kisah, 1955) Puisi Taufiq Ismail: Riwayat

Puisi Taufiq Ismail RIWAYAT Sebuah kisah yang dibangkitkan Dari antara keluarga-keluarga parapenenun Dan pembatik di kota P I Hidup yang bergalau gemeretak deru mesintenun pada siur jaringan benang dan ragi kainpanjang pada tawarnya hati bila anak jadi berbesaran sebuah keluarga sendiri pula dunianya ibunya, ibu berwajah angus diangtungku terbungkuk begini renta cuma bertutupdada nafkah bertuangkan […]

(Zenith, 1952) Puisi P. Sengodjo: Mencari Angin

Puisi P. Sengodjo: MENCARI ANGIN Perahu yang melancar di atas kepermaian air yang kemilau dalam cahaya surya bermain – Aku yang merasa tenang dalam kegirangan yang meresap dari pohon di hadapan – Burung yang terbang lalu melayang di atas embusan angin – Aku dan engkau tiada berpandangan lagi, dan alam bebas melepaskan kita berdua – […]

(Zenith, 1952) Puisi P. Sengodjo: Kata Buka

Puisi P. Sengodjo: KATA BUKA Untuk sajak besar Kudangan masa yang dua tahun itu Kita sanjungan malam akan datang berteriak bersama-sama untuk bernyanyi dan cekcok ber-teman-teman. Kadang awan yang lewat dan hujan jatuh berderai. Aku maju selangkah, dan tidaklah bebas dan angin perlahan menggelitik senja. Di balik bersemi untuk lekas berharap akan bulan yang diraihkan […]

(Zenith, 1952) Puisi P. Sengodjo: Sajak-Sajak Dalam Gelap

Puisi P. Sengodjo: SAJAK-SAJAK DALAM GELAP i. (Ketentuan) Dan lihatlah, gaya kandung yang kecil tumbuh berurai dan saling beramai dengan percobaan yang tidak berhasil dalam kancah yang membadai lepas satu, lepas dua dan saling mereka dan menungkil batu yang berbeka di malam kini. layu bunga september dalam botol yang kering dan bau memancar dari endapan […]

(Zenith, 1952) Puisi P. Sengodjo: Siang di MA

Puisi P. Sengodjo: SIANG DI MA Atur garis potong ini — transversal namanya, kau tahu!? dan lekas beri nama! titik berbau sedapmalam lalat sopan di bidang datar nyanyi tabu dan kilauan harapan lihat mata itu? lho, menanti dan melambai kemarin malam berjumpa lagi lingkaran penuh gaya di sini titik pusat: P dan ini apothema: a […]

(Pantja Raja, 1946) Puisi AOH Karta Hadimadja: Sebagai Dahulu

Puisi AOH Karta Hadimadja: SEBAGAI DAHULU Laksana bintang berkilat cahya, Di atas langit hitam kelam Sianr berkilai cahya matamu, Menembus aku ke jiwa dalam. Ah, tersadar aku, Dahulu…… Telah terpasang lentera harapan, Tertiup angin gelap keliling. Laksana bintang di langit atas, Bintangku Kejora Segera lenyap beredar pula, Bersama zaman terus berputar. Sumber: Majalah Pantja Raja, […]