Tag Archive | Putu Oka

(Indonesia, 1958) Puisi Putu Oka: Separo Dosa

Puisi Putu Oka: SEPARO DOSA ada merpati terbang berwajah kembar hatinya satu dibagi dua di bawah dua kali mengalir airnya sama lain ada yang keruh dan putih kalau malam tiba membawa bulan lelaki yang kehilangan istri dapat bicara, bulan akan jadi kapur dan mengutuki merpati berwajah kembar berteriaklah ia kalau malam dianggap sunyi istrinya cuma […]

(Indonesia, 1958) Puisi Putu Oka: Senja

Puisi Putu Oka: SENJA Wajah senja laut senja mata bulat laut tak bertepi bibir mungil mentari senja hati tak bertepi mata senja biru di tengah merah bulat wajah senja laut senja bulat hati bulat mentari sejuk mata sejuk senja lari mentari lari senja hati biru laut biru dan mari mentari lari dewi lewat jendela ada […]

(Mimbar Indonesia, 1958) Puisi Putu Oka: Yatim Piatu

Puisi Putu Oka: YATIM PIATU belum jemu juga melagu sendu lukanya hati pecahnya hati kemarin pagi ayah pergi tadi sore ibu lari tetes darah tetes darah laut tak bertepi sebulat lembutnya hati duadua pergi mati dari mana ia datang dari mana ia pulang kemarin pagi ayah pergi tadi sore ibu lari duadua pergi mati sejuknya […]

(Mimbar Indonesia, 1958) Puisi Putu Oka: Burung Gereja

Puisi Putu Oka: BURUNG GEREJA burung gereja bercumbu di dahan mati burung gereja menyanyi di kayu salib hati dibawanya pergi ke pedataran kuninglah gadis di bukit senja satu-satu punya cerita satu-satu punya cinta itu laut dan kapal karam kelasi meraung airmatanya hujan sepasang mata di satu hati hijau daun disiram air dan cerita bukit-bukit senja […]

(Mimbar Indonesia, 1958) Puisi Putu Oka: Dunia

Puisi Putu Oka: DUNIA Bumi penjara kata orang Kita hidup kita hukuman petualang Dari kita bernafasnya Tuhan Bukan Tuhan Melahirkan kita Kita maui hidup itu kering atau sejuk Kita maui bulan pudar atau lahir bulat. (SMA A Bhaktiyasa-Singaradja) Sumber: Majalah Mimbar Indonesia, Nomor 38 Tahun XII, 20 September 1958

(Mimbar Indonesia, 1958) Puisi-puisi Putu Oka: Pergilah & Tangis

Putu Oka PERGILAH kalau kau toh mau pergi menuju yang indah di benakmu atau kau telah kira aku setan maka pergilah-pergi dengan dagingmu semasih senja di barat atau kelahiran mentari tetap di timur barangkali aku masih bisa makan daging lebih nyaman dari milikmu. (Singaradja) TANGIS nyanyi malam tiasa sudah kebekuan pohon mati dibikin angin keisengan […]