Tag Archive | Restoe Prawironegoro Ibrahim

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Kepalsuan hidup

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Kepalsuan hidup

KEPALSUAN HIDUP Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  tengah damainya hatiku walau berperang menentang untuk penghidupan masih sempat, kunikmati, kusaksikan, gejolak-gejolak kepalsuan-kepalsuan hidup mereka di tengah kewibawaan kebahagiaan ketentramannya dan sebagainya kecemasan menyentuh jiwa mereka dengan terbacanya hasil komputer yang merinci, tentang penghidupan kedudukan kebahagiaan keberuntungan keruntuhan dan kematiannya  Harlan City, 05 Mei 2013

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Satu Urat Waktu

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Satu Urat Waktu

SATU URAT WAKTU Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  Bulan pucat tenggelam ketika angin malam menyapaku warna hati t’lah memudar hanya suara jengkrik yang terdengar dan burung-burung malam kita bertanya membisu tiada yang bicara kutatap bulan semakin pucat seolah menjadi saksi malam itu kau ucapkan sepatah kata lalu kutatap langkahmu yang semakin menjauh goresan itu tak pernah […]

Kematianku Hampir Menjemput – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

Kematianku Hampir Menjemput – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

KEMATIANKU HAMPIR MENJEMPUT  Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim Kembali tanganku bergerak lincah, mengulek sambal, meski tidak sekuat dulu. Aroma lombok mentah dan bau khas terasi menyeruak memengarkan hidung menggelitik selera. Asap hitam bergulung ditingkah suara gemrengseng ikan basah terpanggang panasnya wajah yang menandai aktivitas rutin kehidupan seorang wanita, ibu rumah tangga. Berpuluh-puluh kali, bahkan beratus kali, […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim:  Bulan Di Hari Lebaran

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Bulan Di Hari Lebaran

BULAN DI HARI LEBARAN Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Di Hari Raya Lebaran ini bulan membayang di mana-mana di atas mesjid bulan bermain ayunan Tuhan mencatat segala kebajikan atas sebulan menahan lapar dan dahaga nafsu yang memenjara manusia dalam gelap bulan membayang di mana-mana terpantul dalam sorot mata anak desa dengan bangga memakai baju dan celana […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Ketika Bumi Tidak Di Jamah Tangan Malam

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Ketika Bumi Tidak Di Jamah Tangan Malam

KETIKA BUMI TIDAK DIJAMAH TANGAN MALAM Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Bulan bersinar penuh berselendang mega ungu Pada ranting kemboja ada bunga menawarkan warna empat helai kelopaknya mengacu ke penjuru dunia Ketika bumi tak hendak di jamah tangan malam dan  kaki mentari meloncat-loncat di atas bukit maka burung-burung mulai berjaga menyentakkan sisa mimpinya Lalu terbang mencari […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Sembilan Puluh Sembilan

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Sembilan Puluh Sembilan

SEMBILAN PULUH SEMBILAN Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim   Kupakai hei…………. Pakaian Malah aku jadi pohon telanjang Sekarang engkau bias sembahyang Malah aku jadi murtad dan tak berkembang Aku larang bertinju di iast kemunafikan Malah aku kena tipu perang filsuf   Hiduplah dan mandirilah di atas benua Malah aku diperbudak jaran goyang Jadilah engkau yang terbaik […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Hati Nurani

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Hati Nurani

HATI NURANI Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Manusia acap kali lupa Atau mungkin karena memang sengaja Merasa diri sendiri pandai dan kuat Hingga mengabaikan orang lain Padahal kita harus menyadari Di atas bukit masih ada gunung Di atas gunung masih ada awan Di atas awan masih ada angin Manusia acap kali lupa Atau mungkin karena memang […]

Tanggal Satu Januari Tahun Satu – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

Tanggal Satu Januari Tahun Satu – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

TANGGAL SATU JANUARI TAHUN SATU Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim Hari ini tanggal 31 Desember 2249. Dan besok sudah memasuki hari pertama tanggal 1 Januari tahun 2250. Sebutlah tahun duaribu seperempat. Dulu, sebelum aku lahir, entah tahun berapa pastinya aku tak tahu, nenek moyang pernah meramalkan bahwa tahun duaribu dunia ini akan sangat semrawut. Ialah dikarenakan […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Buku Harian Di Tangan Tuhan

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Buku Harian Di Tangan Tuhan

BUKU HARIAN DI TANGAN TUHAN Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Tajamnya mentari memanah jantung kotaku nampak wajah-wajah letih seperti mesin tua terbuang aku melangkahkan kaki dan tulang-tulang tubuh mengecil berbekal selembar kertas kuketuk pintu demi pintu untuk menyodorkan nama dan melanjutkan hidup saat ini seantero mata menelanjangi jiwa merenggutku dari hidup lalu mengantar ke mulut jurang […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Mati

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Mati

MATI Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Kala sakit, badan layu, mata sayu tapi Dalam meriang keringat mengucur menyebut-Mu Waktu sehat detik menit jam bulan tahun memburu aku pun bergulingan berpacu Hingga-Mu tertinggal jauh dibelakangku Mau mati Lidah kelu, badan layu, mata sayu Tapi (teringat bapak ibu ajari mengaji mengeja huruf-Mu mengenali nama-Mu pertama kali dilanggar sunyi) […]

Christin – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

Christin – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

CHRISTIN  Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim christin bergegas menghampiri teman-teman satu kelompoknya. Dia membawa berita yang nantinya pasti akan membuat guncang se-es-em-a Patrianus. Melewati sederetan pohon mahoni, sampailah Christin ke tempat yang dituju. Tempat apa lagi kalau bukan warung baksonya Mang Semprol. Warung gosip! “Ada apa Tin?” tanya Siska, Ketua merangkap anggota  Bibir Gosip seusai Christin […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Merdeka

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Merdeka

MERDEKA Merdeka – Merdeka – Merdeka Kumandangkanlah Merdeka Sampai penjuru Nusantara Indonesia Merdeka Nyawa bagai layang-layang Darah bagai genangan air hujan Lebih seribu nyawa melayang Lebih satu telaga darah tergenang Semua bertujuan Satu Semua mengimpikan sesuatu Demi satu merelakan semua. Demi satu, Indonesia Merdeka. Sanggar Komunitas Sastra Kalimalang, Bekasi; 30 mei 2013

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Nyanyian Cengkeh Berbuah

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Nyanyian Cengkeh Berbuah

TENTANG NYANYIAN CENGKEH BERBUAH  Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim dengan lagu karang korona menggapai, korona menyembur menjilati angkasa merah padam dan bercucuran jarum-jarum korona membakar, korona mengangkat nyanyian dari pucuk-pucuk bukit karang rindu lolong srigala menggigit bulan korona menenggelamkan, korona membangkitkan petualang-petualang kecil yang selalu bersembunyi di celah-celah doa korona memerdekakan, korona mengepalkan: Ini nyanyian ladang […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Titian Cinta

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Titian Cinta

TITIAN CINTA Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim ingin kubangun sebuah jembatan ‘tuk menghubung jiwa kita yang belum bersatu menggapai pulai cita-cita ingin kubangun jembatan kokoh tegar ‘tuk titian cinta kita yang belum berpadu menyusur pantai cinta ceria Dimanche, Juillet, 08 – 2012

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Mati

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Mati

MATI Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  Kala sakit, badan layu, mata sayu tapi Dalam meriang keringat mengucur menyebut-Mu Waktu sehat detik menit jam bulan tahun memburu aku pun bergulingan berpacu Hingga-Mu tertinggal jauh dibelakangku Mau mati Lidah kelu, badan layu, mata sayu Tapi (teringat bapak ibu ajari mengaji mengeja huruf-Mu mengenali nama-Mu pertama kali dilanggar sunyi) […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Bulan Purnama yang Kepompong

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Bulan Purnama yang Kepompong

TENTANG BULAN PURNAMA YANG KEPOMPONG Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim gembalaku bison kuku runcing, kulit karet tanduk perunggu purba, mata merindu telaga lahir dari keping-keping padas perbukitan bergulingan di tebing-tebing sepanjang tik tok jam berlarian mengejar awan, mengoyak angkasa anginku pasat kering bertebaran landak bertiup dari rongga-rongga bukit karang menikam musim, menyusut mangsa telagaku rimbu menebar […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Ruang & Angslup

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Ruang & Angslup

RUANG  Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  Si kurus kering; tubuh senantiasa penuh daki tertidur di pinggir jalan berbantal sebelah tangan sedang di hadapan berdiri megah gedung karya siluman Binus, 16 Oktober 2012 *** ANGSLUP Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Rindu adalah derita Derita adalah duka Duka adalah luka Lukaku yang berbaju hitam menyusur remang senja saat suara […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Daun Mahoni, Burung Purba

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Daun Mahoni, Burung Purba

TENTANG DAUN MAHONI, BURUNG PURBA Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim duka siapa yang jatuh pagi-pagi di depan pagar rumahku? begitu merah terbungkus popok rapi putih akan kubesarkan dengan belaian, serba instant dan ketika kau berkunjung kembali ia telah siap melangsungkan perkawinan dua pipit menyeberangi waktu sang duka telah renta beranak cucu memadati seisi jantungku makin berdebar […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Kisah Cinta Anak Manusia Yang Lari Dari Kebenaran

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Tentang Kisah Cinta Anak Manusia Yang Lari Dari Kebenaran

TENTANG KISAH CINTA ANAK MANUSIA YANG LARI DARI KEBENARAN Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  Tujuh tahun lamanya Braminta menanti sang kekasih dan seperti tujuh menit, kisah cintanya terukir kembali dalam ketulusan di sebuah pinggiran kota kecil dalam temaram senja ia mengalunkannya tembang cinta itu di lereng-lereng bukit yang disaksikan cahaya rembulan malam mereka bercanda di tanah […]

Puisi-puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Lelah dalam Mimpi, Bukan, Terkubur

Puisi-puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Lelah dalam Mimpi, Bukan, Terkubur

Puisi-puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Lelap Dalam Mimpi  Rumah putih adalah teman kota dengan bangku panjang menampung tulang lelah rebah  : lelap, temukan kantuk pusaka yang terselip di saku mimpi   Binus, 16 Oktober 2012  *** Bukan   Menatap pengemis iba hatiku menatap tapak tangannya seperti menatap diri Mu dan ketika kulemparkan uang logam untuknya mata Mu melotot […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Sengsara & Dia

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Sengsara & Dia

SENGSARA Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  di pinggir laut, seekor ketam parah satu kakinya, menggelepar karena tak kuasa menaklukkan ombak ia jadi pemandangan umum semua telah saling memaklumi bahwa kesengsaraan memang bisa terjadi di mana-mana Binus, 16 Oktober 2012  *** DIA Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  Dia tak mau merayap di jaring laba-laba : bukankah makna ditemukan […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Aku Ingin Lepas Dari Bayangan Kelam

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Aku Ingin Lepas Dari Bayangan Kelam

AKU INGIN LEPAS DARI BAYANGAN KELAM Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim kau masih juga cantik meski mamandangku kelabu tiada kautemui lagi keriuhan itu rumah-rumah bercat putih pucat hampir semua menutup pintu cuma lalu-lalang angin daun-daun kembali menguning bau anyir suara ombak menggigir ke mana itu para nelayan pendayung-pendayung sampan laut biru termangu kehilangan engkaulah itu kini […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Ladang Iman

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Ladang Iman

LADANG IMAN Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Malam ini, bersama tasbih serangga putih bersama tahmid angin dan bintang gemintang serta tahlil dari sebagian muzamil aku buluh rinduku pada-Mu Dalam basah kuyupnya sajadah kumal dan dalam getar kalbu kian gencar kuacuhkan denyut nadiku meluruh, lusuh dan pandang mataku kian layu, kelu kudamba penuh akan rahmat-Mu Rabbii, samar-samar jemari-Mu […]

Sayu – Restoe Prawironegoro Ibrahim

Sayu – Restoe Prawironegoro Ibrahim

SAYU Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim Seorang saudagar kaya bernama Haji Sahak hendak pergi berdagang ke Palembang. Dari Pagar Alam ke Palembang itu, Haji Sahak membawa berpuluh-puluh kerbau dan beberapa macam barang dagangan lainnya. Istri dan anaknya yang perawan juga ikut bersamanya pergi ke Palembang. Di tengah-tengah perjalanan, rombongan Haji Sahak dicegat oleh segerombolan perampok yang […]

Puisi-puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Di Persimpangan, Sembilan Hawa, Memburu

Puisi-puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Di Persimpangan, Sembilan Hawa, Memburu

Puisi-puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim DI PERSIMPANGAN  Seorang lelaki di jantung kota di tangannya sekuntum bunga kembang segenggam cinta tercecer di persimpangan di persimpangan Binus, 16 Oktober 2012  *** SEMBILAN HAWA Mantra api larut di satuan tangan ranting dan pohon tembang meninggi langit memanggil Tuhan ketika, sembilan hawa dalam tirani (dari ruang ini kucari Engkau) Binus, […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Menatap Matahari Kota

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Menatap Matahari Kota

MENATAP MATAHARI KOTA Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  Kedua mata yang bertahun silau menatap terik dan kemarau di segala cermin bagai cinta yang membara aku memburu Mu dalam suara, dalam doa, dalam bisu bumi dan langit mencairkan peluh dan debar jantung di mana sujud akan rela kuserahkan jalan berkelok bagai sungai yang membenamkanku dari arus yang […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Di Persimpangan Jalan

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Di Persimpangan Jalan

DI PERSIMPANGAN JALAN Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim Di persimpangan jalan ada banyak jalan yang setelah melewati berbagai jalan menuju ke persimpangan jalan salah satunya berakhir di persimpangan jalan aku tak tahu dewaruciku, di mana engkau labuhkan samuderamu? sedang di persimpangan jalan banyak air yang berular semuanya dijalankan dengan bakteri Binus, 16 Oktober 2012 *** Restoe […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Sepi

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Sepi

SEPI Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim  Sepi ini cantik buat makhluk frustasi sepi ini bangsat buat makhluk giat sepi ini alat, buat cermin diri melacur dalam sepi buat diri tak terpuji Binus, 16 Oktober 2012

Gadis Berambut Panjang – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

Gadis Berambut Panjang – Cerpen Restoe Prawironegoro Ibrahim

  GADIS BERAMBUT PANJANG Cerpen  Restoe Prawironegoro Ibrahim    “Maukah Anda mengantar saya pulang,” pinta Anita penuh harap. Hatiku ragu untuk menjawabnya. Pertentangan-pertentangan membelenggu pikiranku. Antara ya dan tidak. Tapi akhirnya dengan tegas aku pun menyanggupinya. Aku terhenyak. Gadis berambut panjang telah berdiri tegak disampingku. Wajahnya begitu sendu tak bergairah. Matanya yang bening terlihat kosong. […]

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Nafsu Birahi

Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim: Nafsu Birahi

NAFSU BIRAHI Puisi Restoe Prawironegoro Ibrahim    Kaca mata membuat orang lucu sudut mata sembunyi dari sinar surya kaca mata membuat orang mengantuk pejam mata risik angin lirih kaca mata membuat orang malu umpat di hati pesan dan janji kaca mata membuat orang sangsi nafsu birahi tak henti-henti Binus, 16 Oktober 2012 *** Restoe Prawironegoro Ibrahim […]