Tag Archive | Ripana Puntarasa

Puisi Ripana Puntarasa: Hari Ini, Pohon Tua Itu Ditebang

Puisi Ripana Puntarasa: Hari Ini, Pohon Tua Itu Ditebang

HARI INI, POHON TUA ITU DITEBANG (Untuk PLISIT POVIA , Adi “Kitink” Tangkilisan dan kawan-kawan)   Puisi Ripana Puntarasa (Sore ini aku merasakan kesenangan dan kegembiraan mendapat undangan untuk pertunjukkan PLISIT POVIA tentang prosesi penebangan pohon tua yang ditengarai sebuah judul: PROSES KEBERSAMAAN DAN REGENERASI)   Pohon tua, yang ditebang itu, telah kering, lapuk dan keropos karena […]

Puisi Ripana Puntarasa: Asmaradaya (2)

Puisi Ripana Puntarasa: Asmaradaya (2)

ASMARADAYA (2) Puisi Ripana Puntarasa Seumpama air mengalir dari mata-air di puncak gunung Melenggang arusnya menarikan gemericik Membuncahkan indah buih-buih sejuk Bertimpa usapan angin Segar menyusur sungai menyelimuti lorong lembah dan hamparan ngarai Adakalanya melejit tanpa duga Melibas tebas apa saja Perkasa Sampai kembali seperti biasa Mengundang canda Berkecipak riang mericik buih Bersenda angin menyejuk […]

Puisi Ripana Puntarasa: Maaf, Sebab Aku Tak Datang di Doa Bersama Tujuh Hari Alastlogo

Puisi Ripana Puntarasa: Maaf, Sebab Aku Tak Datang di Doa Bersama Tujuh Hari Alastlogo

MAAF, SEBAB AKU TAK DAPAT DATANG DI DOA BERSAMA TUJUH HARI ALASTLOGO Puisi Ripana Puntarasa mendengar kabar itu ruh, badan dan jiwaku panas membeku dan hari ini walau tak sampai wadagku untuk duduk tafakur bersila bersama asap dupa membubung dari ubun-ubunku sembah sujudku padaMu ya Khaliq TUHAN Di Atas Segala Haribaan sempurnakan saudara-saudaraku yang telah […]

Puisi Ripana Puntarasa: Republik

Puisi Ripana Puntarasa: Republik

  REPUBLIK  Puisi Ripana Puntarasa Puisi (1) Di bawah barisan tiang bendera rakyat yang tak tampak kibarnya Layang-layang mainan kanak-kanak itu putus tali benangnya Tergolek, tidak terurus Puisi (2) Melolong di gorong-gorong Ibukota Tangisan caci-maki kanak-kanak membelah langit Sungguhkah engkau tidak dapat mendengarnya? Puisi (3) Tanah Air Besi Batu Kayu Nafas Api Kaki tangan itu […]

Puisi Ripana Puntarasa: Nyanyian CInta di Pebruari 2009

Puisi Ripana Puntarasa: Nyanyian CInta di Pebruari 2009

NYANYIAN CINTA DI PEBRUARI 2009 Puisi Ripana Puntarasa Kegembiraan itu usahlah dilepas semena-mena Jagakan selalu menyangga sepi Sampai sedihpun jengah menghampiri Ramaikan sunyi dengan canda ceria Tenggelamkan sedih tanpa abai menyimpan catatan Ingatkan selalu ia agar tidak berulang-ulang Sisihkan sayat hindarkan radang Tiada yang perlu dilalai Ingatan bukanlah siksa memincing selalu mata, batin dan pikiran […]

Puisi Ripana Puntarasa: Antara Jakarta-Rangkasbitung-Jakarta (3)

Puisi Ripana Puntarasa: Antara Jakarta-Rangkasbitung-Jakarta (3)

ANTARA JAKARTA-RANGKASBITUNG-JAKARTA   Puisi Ripana Puntarasa Puisi 3: “Membuta Unjuk, Memaki Tuli”  Rangkasbitung-Jakarta di siang jejal kereta Gerah keringat dan panas nafas kita bersatu Rakyat bergerak merayap ke Ibukota Berebut menyusu di belanga tuba Pemimpin pemimpi mendengkur dalam samadi birahi Haus dibasuh Segar meneguk caci-maki  

Puisi Ripana Puntarasa: Antara Jakarta-Rangkasbitung-Jakarta (4)

Puisi Ripana Puntarasa: Antara Jakarta-Rangkasbitung-Jakarta (4)

ANTARA JAKARTA-RANGKASBITUNG-JAKARTA   Puisi Ripana Puntarasa  Puisi 4 :“Dirga Jumawa”   Jakarta rakus, Menelan semuanya Tertinggal cuma Serpihan, ampas dan sisa-sisa Akan kutelan Jakarta Beserta segala Serpihan, ampas dan sisa-sisanya Watugunung  (Jakarta-Rangkasbitung-Jakarta, 26-28 Januari 2009)  

Puisi Ripana Puntarasa: Antara Jakarta-Rangkasbitung-Jakarta (2)

Puisi Ripana Puntarasa: Antara Jakarta-Rangkasbitung-Jakarta (2)

ANTARA JAKARTA-RANGKASBITUNG-JAKARTA   Puisi Ripana Puntarasa Puisi 2: “Kurang dari Sebenggol Sehari” (Diukur Cukup dengan Sesuap Nasi)   Tulallingtong…. Kereta segera diberangkatkan menuju Jakarta Wajah-wajah berparas gerah-lelah Masih sedikit bincang dengan gelak-tawa Bertikai tangis gelisah bayi dan anak-anak Ayo, ketiak siapa yang mampu kalahkan Bau anyir, basi, busuk dan bangernya Jakarta Kereta berjejal panas Dangdut, pop dan asal menyanyi […]

Puisi Ripana Puntarasa: Caraka (4) Ampak-ampak Manut Emprit

Puisi Ripana Puntarasa: Caraka (4) Ampak-ampak Manut Emprit

CARAKA  Caraka IV: “Ampak-Ampak Manuk Emprit”  Puisi Ripana Puntarasa Ampak-ampak manuk emprit sinangga bregada walang sungsang Sulung tan kengguh geni, ngundang bangkong lelumban udan Si kodhok kelakon nguntal rembulan, srengenge lan lintang Angin ilang sumilire, sumuk rinasa tan dleweran kringete Ha Da Pa Ma Ga Dha Ta Na Ca Sa Ja Ba Tha Ya Wa […]

Puisi Ripana Puntarasa: Caraka (3) Satriya Lukar Busana

Puisi Ripana Puntarasa: Caraka (3) Satriya Lukar Busana

CARAKA  Caraka 3: “Satriya Lukar Busana”  Puisi Ripana Puntarasa Satriya lukar busana nyawiji titah sawantah, kawula dasih muhing karaharjaning nusa lan bangsa mahayu-hayuning Bawana Ha Da Pa Ma Na Ta Dha Ga Ca Sa Ja Ba Ra Wa Ya Tha Ka La Nya Nga Sira Wanodya wadyabala hangesthi puja mring kayuwanan jati lestari Bumi Pertiwi […]

Puisi Ripana Puntarasa: Caraka (2) Saloka Badhar

Puisi Ripana Puntarasa: Caraka (2) Saloka Badhar

CARAKA Caraka 2: “Saloka Badhar”   Puisi Ripana Puntarasa Lelangen sajerone urip gegotrah ing jagad rame hamenangi anane ula nguntal saloka salokane caraka sungsang kuwalik Ha Na Ca Ra Ka La Wa Sa Ta Da Pa Dha Ja Ya Nya Nga Tha Ba Ga Ma Ula ngaleker kaluyu kaku hanjengku jagad rame hamenangi saloka munjal hambradhal […]

Puisi Ripana Puntarasa: Nyanyi Sri Krishna di Ujung Yodhawa

Puisi Ripana Puntarasa: Nyanyi Sri Krishna di Ujung Yodhawa

NYANYI SRI KRISHNA DI UJUNG YODHAWA Puisi Ripana Puntarasa Ketika langit tak menampakkan cercah Matahari, rembulan dan bintang-gemintang Sedang angin berhenti meniup, sebab waktu yang berjalan Tanpa detak Tanpa gerak Tanpa terang Tanpa gelap Abu-abu juga tidak Tanpa warna Tanpa ucap Tanpa kata-kata Tanpa diam Beku juga tidak Ada gigil tanpa dingin Ada keringat tanpa […]

Puisi Ripana Puntarasa: Dzikir Sepi Dzikir (5)

Puisi Ripana Puntarasa: Dzikir Sepi Dzikir (5)

DZIKIR SEPI DZIKIR Puisi Ripana Puntarasa (Dzikir:5)  apa yang dapat dinyanyikan ketika dawai gitar dipetik untuk komposisi satu nada, sedang partitur lagu ditulis untuk satu tarikan nafas maka, lagukan irama damai dalam dzikir….. Surabaya-Mojokerto, April-Mei 2004  

Puisi Ripana Puntarasa: Dzikir Sepi Dzikir (2)

Puisi Ripana Puntarasa: Dzikir Sepi Dzikir (2)

DZIKIR SEPI DZIKIR Puisi Ripana Puntarasa   (Dzikir:2) menyisir batas antara gelap dan terang bukan untuk memasuki ruang remang-remang jagad kesunyataan tidak menawarkan pilihan: hitam – putih telah dikabarkan tentang hak dan batil, maka pilihan berdiri pada ruang kepantasan hidup sebab, dalam gelap tersembunyi terang dalam terang bersemayam gelap lalu, dimana diri diantara yang telah […]

Puisi Ripana Puntarasa: Salam di Duduk Malam

Puisi Ripana Puntarasa: Salam di Duduk Malam

SALAM DI DUDUK MALAM Puisi Ripana Puntarasa . ketika pesta dimeriahkan dengan bir, vodka, rum, anggur dan racikan canda tawa dan kegembiraan lepas bebas dari pingitan dimana cinta Yang Khaliq dan Shidiq didudukkan? diantara nyanyian sepi aku menarikan joget dengan tanpa gerak dzikir yang dinafaskan angin bersama gunung, hutan dan lautan apakah telah menjawab gelisahmu? […]

Puisi Ripana Puntarasa: Salam di Gundah Pagi Kota Jakarta

Puisi Ripana Puntarasa: Salam di Gundah Pagi Kota Jakarta

SALAM DI GUNDAH PAGI KOTA JAKARTA Puisi Ripana Puntarasa Buka pintu dan jendela, nafasi hari dengan senyum dan kegembiraan. Selamat pagi, dunia… Apa yang dapat kau selakan di tengah hiruk-pikuk kotamu yang renta, terseyok beban, rusuh dan rombengan… kecuali menyempatkan diri dengan menyemangati hari? Pastikan dudukmu di kursi, tanpa paku, bara api, ambeien ataupun belati… […]

Puisi Ripana Puntarasa: Pada Sahabat (4) “Secangkir Kopi di Asap Lisong”

PADA SAHABAT (4) “Secangkir Kopi di Asap Lisong” Puisi Ripana Puntarasa Secangkir kopi telah kehilangan daya Panas dan hangatnya telah usang Tidak beku, memang Dinginnya tak lagi nyaman untuk perbincangan bersama Tarian kata-kata kaku membeku di ujung lidah Lemparan kerecap bibir terantuk waktu Terpenggal separuh jalan lapang Tiada aral Tiada halang-rintang Beku begitu saja Secangkir […]

Puisi Ripana Puntarasa: Pada Sahabat (3) “Esok Pasti Lebih Baik”

Pada Sahabat (3): “Esok Pasti Lebih Baik” Puisi Ripana Puntarasa – Peluk malam dan sayangi ia dengan Nafas lembut yang mengayun lelap Hentikan caci-maki itu, walau Rasa lelah jiwa yang penat oleh kecewa Cobalah berhitung dari Butiran-butiran angin yang selalu menari dalam setiap nafas Pastikan Ruh menyangga tegak badan, bersama Gemericik aliran darah di seluruh […]

Puisi Ripana Puntarasa: Pada Sahabat (2) “Hal Bercakap”

Pada Sahabat (2): “Hal Bercakap” Puisi Ripana Puntarasa Di atas secangkir kopi hangat Kita duduk bersama dan berbincang cakap Menarikan kata-kata yang terus mengalir Pada arus deras liur di setiap ujung lidah Menggulir berbutir-butir Melontar Melantun Diantara sela kerecap bibir-bibir manis yang Berantuk-antuk gelitik gemeritik gigi seri Dari ujung ke ujung tenggelamkan terus pangkalnya Tanpa […]

Puisi Ripana Puntarasa: Jangan Bersedih, Bunda…

Puisi Ripana Puntarasa: Jangan Bersedih, Bunda…

“JANGAN BERSEDIH, BUNDA…” Puisi  Ripana Puntarasa  jemuran telah mengering, tinggal membesutnya perjamuan telah disiapkan dengan sajian tarian laron, seriti dan walet hujan sehari kemarin, semata memekarkan benih padi yang telah ditebar mendung itu hanya sebentar lewat tidakkah kau dengar kabar tentang anak-anak yang mulai pintar bermain petir? mereka menjinakkan dan mengurainya sebagai cambuk, lalu siapa […]

Puisi Ripana Puntarasa: Ditelan Sepi

Puisi Ripana Puntarasa: Ditelan Sepi

  DITELAN SEPI  Puisi Ripana Puntarasa telung ratri tan ana kang sabawa sumiliring angin rendhet gojag-gajeg lampahipun tan ajeg mitraku, sun atur panyaru paran-para dunungira saneki melintas sekejap dan bertegur-sapalah sedikit salam dan senyum cukuplah mengharumkan dan menggugah sepi ini memang tidak membunuhku ia telah membekap waktu menjadi beku hangat itu selalu ditunggu hadirnya rahayu […]

Puisi Ripana Puntarasa: Bersalam Pada Tebal Awan Hujan

Puisi Ripana Puntarasa: Bersalam Pada Tebal Awan Hujan

BERSALAM PADA TEBAL AWAN HUJAN Puisi Ripana Puntarasa kilat halilintar menikam langit laju guntur menggemuruh merata laju gumpalan awan hujan pun belum juga rapat menderas angin enggan membadai dimana lantun merdu suara nyanyian alam disembunyikan mungkin engkau telah menelannya untuk dilantun pada hinggap dendang manis dalam merah lagu gayamu nan meriah. nyanyikan salam di setiap […]

Puisi Ripana Puntarasa: Perhelatan Salam

Puisi Ripana Puntarasa: Perhelatan Salam

PERHELATAN SALAM Puisi Ripana Puntarasa Ruang semu dalam rumah semu di jagad semu perhelatan terselenggara tanpa pagar maupun pembatas seleret garis pun tidak menandai adanya sekat aku, kau, dia, kami, kamu, kita dan mereka siapa saja tanpa bentuk tanpa rupa tanpa gerak tanpa lenggang tanpa desah tanpa suara salam sapa pesat berkilat menuju ke menyampai […]

Puisi Ripana Puntarasa: Asmaradaya (1)

Puisi Ripana Puntarasa: Asmaradaya (1)

ASMARADAYA (1) Puisi Ripana Puntarasa Panas merambat rayap menghangat sekujur badan, luar dan dalam Menghangat dan terus menghangat kemudian membakar Membakar hati, ruh, jiwa dan raga Menikmatinya sungguh indah Apinya biarkan ia menyala bakar ke dalam Tak boleh ia berkobar ke luar Dayanya jangan sampai menghancurleburkan semua-muanya Panas api merambat kobar mematangkan tanak Hati, ruh, […]

Puisi Ripana Puntarasa: Nenek, Gamba-gamba Ini Aku Bawakan Untukmu

Puisi Ripana Puntarasa: Nenek, Gamba-gamba Ini Aku Bawakan Untukmu

Puisi Ripana Puntarasa NENEK, GAMBA-GAMBA INI AKU BAWAKAN UNTUKMU” (Untuk Zulkifli “Uun” Pagessa dan Nenek Tosale)  Lama aku menunggu lenting-lenting irama rajutanmu dari tiap bilah gamba-gamba Tarikan perasaan indahku seperti kau pun menarikan rasa indah orang-orang di jaman mudamu Sehingga, seorang banci keramat sampai mengadu nada-nada rancag gamba-gambamu dengan debur ombak yang bersekutu angin dan […]

Puisi Ripana Puntarasa: Suatu Malam Ketika Bulan Sakikir

Puisi Ripana Puntarasa: Suatu Malam Ketika Bulan Sakikir

Puisi Ripana Puntarasa “SUATU MALAM KETIKA BULAN SAKIKIR”   Di teras rumahmu kita duduk dan berbincang-bincang Malam itu penuh bintang Rembulan sabit tanggal tua, kau menyebutnya bulan sakikir Aku tertawa, kau tertawa Dua ekor cicak bersuara bersahutan Kau ketukkan ujung jarimu ke permukaan tangan-tangan kursi Kau bilang, Ini tradisi Kaili Bercerita disahut bunyi cicak adalah kesaksian […]

Puisi Ripana Puntarasa:Sesuap Nasi dan Sebutir Peluru

Puisi Ripana Puntarasa:Sesuap Nasi dan Sebutir Peluru

  SESUAP NASI DAN SEBUTIR PELURU Puisi Ripana Puntarasa   “Sajak untuk Busairi (Bondowoso) dan Mereka (dimana pun) yang terluka dan mati karena lapar dan menjarah panganan”  Yang Mulia, hamba lapar Seperti juga tetangga hamba mengalaminya Yang Mulia, isteri hamba belum lagi memasak Begitu pun dapur-dapur tetangga hamba tidak mengepulkan asap Yang Mulia, anak-anak hamba […]

Puisi Ripana Puntarasa – Nyanyian Cinta dan Caci Maki

Puisi Ripana Puntarasa – Nyanyian Cinta dan Caci Maki

Puisi Ripana Puntarasa NYANYIAN CINTA DAN CACI-MAKI Aku ingin melagukan nyanyian cinta dari kedalaman jiwa terluka untuk kanak-kanak yang terganggu nyenyak tidurnya untuk kanak-kanak yang terganggu manis senyumnya untuk kanak-kanak yang terganggu ceria permainannya untuk kanak-kanak yang terganggu khusuk belajarnya untuk kanak-kanak yang terganggu oleh lapar di perutnya Nyanyian cintaku dari kedalaman jiwa terluka bukan […]

Puisi Ripana Puntarasa – Dengan Tarian Layang-layang, Kanak-kanak Menyapamu

Puisi Ripana Puntarasa – Dengan Tarian Layang-layang, Kanak-kanak Menyapamu

DENGAN TARIAN LAYANG-LAYANG, KANAK-KANAK MENYAPAMU  Puisi Ripana Puntarasa Selembar daun kering yang dipetik angin awal musim kemarau tahun lalu telah mulai tunas dan berakar pada setiap ujung uratnya. Kanak-kanak yang bermain layang-layang beramai-ramai memungut dan mananamnya pada ujung pintu air sumur ladang yang selalu basah dan lembab. Setiap waktu mereka menjaganya dalam kegembiraan, was-was dan […]

Puisi Ripana Puntarasa: Pada Suatu Siang yang terik dan Panjang, Kau Berkaca pada Setitik Embun yang Melayang

Puisi Ripana Puntarasa: Pada Suatu Siang yang terik dan Panjang, Kau Berkaca pada Setitik Embun yang Melayang

“PADA SUATU SIANG YANG TERIK DAN PANJANG, KAU BERKACA PADA SETITIK EMBUN YANG MELAYANG” Puisi Ripana Puntarasa Runcing bunga rumput dalam genggam angin menikam bengal pikiranku mengusikmu berkaca pada setitik embun yang melayang dalam terik siang. Kau berdandan untuk sebuah pesta yang belum ditentukan. Karena kanak-kanak mestinya bernyanyi, malah berlari… menjelang merah gincu bibir meja […]