Tag Archive | Septi Shinta Sunaryati:

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Renta

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Renta

RENTA  Puisi Septi Shinta Sunaryati usia yang semakin habis tergerus masa tubuh mengerut keriput tak berdaya tak ada sepetak tanah apalagi gubuk untuk berteduh dari terik dan banjir ia berjalan menyusuri lorong waktu yang kian kelam sesekali berhenti, tubuhnya sakit dan kelelahan :mungkin lima atau enam puluh tahun yang lalu dia gadis cantik jelita membayangkan […]

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Berkatmu, Ibu

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Berkatmu, Ibu

BERKATMU IBU Puisi Septi Shinta Sunaryati   ibu, jika dua belas tahun adalah waktu yang sangat jauh aku mohon ibu, doakanlah sama seperti saat engkau memberkati langkahku membanting segala peluh merubah sakit menjadi doa bu, jika air mata itu bahagia menangislah bu, menangislah dan takkan kuhapus biarlah mengering dan selalu menjadi berkat untukku kelak tak lagi kudapati […]

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Tentang gelas teh dan selamat pagi

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Tentang gelas teh dan selamat pagi

TENTANG GELAS TEH DAN SELAMAT PAGI  Puisi Septi Shinta Sunaryati pagi bersinar, cerah menyambut hari mengabulkan doadoaku semalam semoga harihari depan sama indahnya dengan hari ini seperti segelas teh manis yang kusajikan tiap pagi di meja makan kita aku adukkan segelas teh panas dengan sedikit gula sebagai ucapan selamat pagi januari, 2013

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Renta

Puisi Septi Shinta Sunaryati: Renta

RENTA Puisi Septi Shinta Sunaryati  usia yang semakin habis tergerus masa tubuh mengerut keriput tak berdaya tak ada sepetak tanah apalagi gubuk untuk berteduh dari terik dan banjir ia berjalan menyusuri lorong waktu yang kian kelam sesekali berhenti, tubuhnya sakit dan kelelahan :mungkin lima atau enam puluh tahun yang lalu dia gadis cantik jelita membayangkan […]