Tag Archive | Simon Hate

Puisi Simon Hate: Potret Diri (2)

Puisi Simon Hate: Potret Diri (2)

POTRET DIRI (2) Puisi Simon Hate  (sore, stasiun tugu, januari delapan satu) hujan turun terus menerus sejak pagi  (Suasana itu pun turut bersama angin mengusap-usap tiang-tiang dan dinding lembab dan menggigil) Aku pun terpaksa berangkat lagi. Masih tak mampu menetapkan hati: Menyesuaikan diri, larut. Berjuang sendiri, takut semua keinginan tak pernah terwujud (Dari mana kudapat […]

Puisi Simon Hate: Pernyataan Laku

Puisi Simon Hate: Pernyataan Laku

PERNYATAAN LAKU Puisi Simon Hate Bagaimana bisa sampai? Salah dan maaf berulang jua. Jadi apa – aku; harus: menyerah, menunggu, yang – akan selalu meminta tak tahu apa. Lalu? (setelah tiada lagi yang memanggil) Aku akan terus tak punya sampai.

Puisi Simon Hate: Puisi Malam

Puisi Simon Hate: Puisi Malam

PUISI MALAM  Puisi Simon Hate Puisi Pertama  Bila ada bunyi yang disampaikan angin padamu malam itu ketika kau bersandar di dadaku di bangku taman yang senyap, jangan percaya, sayang. Ia hanya bisa memberi dingin. Ia bergerak karena begitulah. Tanpa maksud. Sepoi, mau pun badai. Akan tetapi, kasihku, tahukah dikau apa yang menyebabkan aku menciummu malam […]

Puisi Simon Hate: Kembali Memainkan Caligula

Puisi Simon Hate: Kembali Memainkan Caligula

KEMBALI MEMAINKAN CALIGULA Puisi Simon Hate Harusnya begini kita pandang kesibukan: Rencana demi rencana menjaring semestinya kejadian kemarin masih menuntut penyesalan. Kaki melangkah perintah apa? Mana mampu mengalih tatapan bocah ketika senyum dan rasa hangat di dada menggelegak menetes di mata dan persahabatan begitu bermakna. Jadi teringat, kawan lama hanya kerinduan. Haruskah kita tepati janji? […]

Puisi Simon Hate: Dewa-dewi Hidup Kembali

Puisi Simon Hate: Dewa-dewi Hidup Kembali

DEWA-DEWI HIDUP KEMBALI Puisi Simon Hate Dewa-dewi hidup kembali, o Zarathustra! Mereka tidak jadi mati. Bagaimana kami bisa membunuh mereka! Mereka tidak ambah tanah Mereka melesat, terbang Istana mereka raksasa dan kami tak bisa mendekati pagarnya Sabda mereka cukup telunjuk tekan tombol saja. Kami menjadi budak bukan karena moral. dibuat menjadi budak hidup sebagai budak Moral kami […]

Puisi Simon Hate: Metamorfosis Unggas

Puisi Simon Hate: Metamorfosis Unggas

METAMORFOSIS UNGGAS (Potret Diri, 1994) Puisi Simon Hate (Ada kemarau teramat panjang dan pohon pucuknya kurus rapuh kerontang mencucuk matahari, lalu kota pun terbakar. Sekarang …) Dia hanya punya tidur tak lagi dapatkan mimpi. Hoorrkh, di usia yang 40, mengorek-ngorek debu dan sampah guguran daun-daun kota yang meranggas yang tak mungkin lagi peroleh sarang burung-burung […]

Puisi Simon Hate: Tamu Setiap Malam

Puisi Simon Hate: Tamu Setiap Malam

TAMU SETIAP MALAM  Puisi Simon Hate Setiap malam mulai sepi ketukan itu berulang lagi. – Siapa di situ? Menghempaskan kakinya yang berdebu dibukanya kancing bajunya: +Adayang menyuruh. Dari balik jendela yang terkuak sedikit kau mengintai: – Dia tak ada di sini. + Nah! Di balik suaramu aku melihatnya. Lalu, hening. (Tak lama kemudian terdengar suara […]