Tag Archive | Sirullah Kaelani

(Siasat, 1952) Puisi Sirullah Kaelani: Bertambah Nyata, Lampu-lampu Sepanjang Jalan Tergantung

Puisi Sirullah Kaelani BERTAMBAH NYATA, LAMPU-LAMPU SEPANJANG JALAN TERGANTUNG bertambah nyata, lampu-lampu sepanjang jalan tergantung cuma di ujung-ujung lorong menuju jurang! aku punya sedikit pesan buat lorong kesekian, sejak hari ini baik padamkan saja lampumu dan aku memberi tangan selamat tinggal. kalau masih menyala jua, percuma jangan tunggu aku lagi ukurlah panjang kesunyian sampai mati […]

(Siasat, 1952) Puisi Sirullah Kaelani: Si Ida Kecurian Kasih

Puisi Sirulah Kaelani SI IDA KECURIAN KASIH Si Ida kecurian kasih tersara  ke daerah Buangan di mana pucuk-pucuk cemara berpatahan daun-daunan gugur menderu dengan angin Si Ida berdiri tertegun sangsi bisa kembali merayu dendam Oh kasih yang lari dari genggaman kau kirim aku ke daerah ini di mana bintang tak membayang lagi dan warna-warni lesi […]

(Siasat, 1952) Puisi Sirullah Kaelani: Tuhan Menjelmakan Keindahan

Puisi Sirullah Kaelani TUHAN MENJELMAKAN KEINDAHAN Tuhan menjelmakan keindahan dalam bentuk-bentuk yang mengagumkan Bagi bentuk-bentuk paling mengagumkan cucu Hawa pengguncang kerisauan, Aku bukan karang mati di tengah lautan Bukan rumah tertutup di tengah hutan Aku arus hasrat pendukung wajahnya Pencatat dan pengenang Kumau, darah  dalam jantung sebagian adalah darahnya! Tetapi. Setiap wajah minta arus lebih […]

(Siasat, 1952) Puisi Sirullah Kaelani: Permintaan

Puisi Sirullah Kaelani PERMINTAAN Sejak kemarin telah kita kenal semua azab+duka Habislah kini bisa ketakutan kita terhadap darah+Maut, pusing+reruntuhan Kalau hari ini hari penghabisan buat pekik-pekik +teriakan-teriakan, hari penghabisan juga buat kegaduh-gelisahan kita selama ini tambah menebalkan awan. Arakan awan tidak bertambah panjang! Laut keruh-kemerahan akan jadi biru-gemilang! Matahari akan bersinar terang, akan bersinar terang! […]

(Siasat, 1952) Puisi Sirullah Kaelani: Sajak

Puisi Sirullah Kaelani: SAJAK Buat: R PRatikto –smg J. Herawaty –Tjl H. Suhadjar – Btn Herman AM – Bdg. Kalau nafas sesak dada remuk tercampak di pantai retak Dan awan masih lantang berteriak memberi kabar tentang fajar tenggelam 1000 tahun ah, kawan, cita+cinta cuma menambah parah segala luka. Banyak cerita di dunia ini, tentang kapal […]

(Siasat, 1952) Puisi Sirullah Kaelani: Keadaan

Puisi Sirullah Kaelani: KEADAAN Gemuruh langkah satu-satu berhenti Keriuhan nyanyi fajar harapan sudah sayup-sayup tenggelam dalam teriakan keluh-kesah berat badan Gelimpangan manusia kelelahan sepanjang jalan. Laut kelabu-kemerahan ombak berkecamuk Berkeliaran perahu-perahu hitam tak berkemudi. Maut mengintai di segala penjuru manusia terancam, menjadi kejaran Syiwa. Manusia! Manusia! Manusia! O, berapa gelintir ini manusia yang masih berani […]

(Zenith, 1951) Puisi Sirullah Kaelani: Perhitungan

Puisi Sirullah Kaelani: PERHITUNGAN Tanyakan, tanyakan kepada manusia babak seribu yang kini hidup terus bermukim di tepi hutan melanjutkan riwayat Adam dan Hawa; Tanyakan, tanyakan, apa akan terus membiarkan labah bersarang, rawa terbentang, rumah gubuk alang-alang? Ini hidup tinggal sejengkal lagi Gubuk itu telah apak dan usang. Orang utas jangan tertawa puas Tukang rumput jangan […]