Tag Archive | SM Ardan

(Pudjangga Baru, 1951) Puisi SM Ardan: Perjalanan

Puisi SM Ardan: PERJALANAN Aku salah satu penumpang kereta-api dari dan ke satu jurusan Seperti juga yang lain: bermata sangsi, belum punya pegangan Ber-asak-asakan, duduk diikat benda mati, gantungan harap Melihat ke luar jendela, melupa, kepadatan, perpacuan Beriri pada manusia-manusia berkeliaran di keluasaan Kereta-api berlari, penumpangnya bertanya: Di mana aku mesti turu, hei, kawan? Disambut […]

(Pudjangga Baru, 1951) Puisi SM Ardan: Pasar Ikan

Puisi SM Ardan: PASAR IKAN angin mendadak bangkit membawa kesayupan melonjak, ternganga dikitari kehijauan, sejenak tawa tertumbuk, lainnya berjejal di tenggorokan terngiang antara ketakjuban tangis dalam kiraan di kejauhan * dijilat hangat matahari…… kaku segala gerak antara bintang dan lumpur tidak ada jarak kami seberat jenis diteduh dibadai hapuslah segala Sumber: Majalah Pudjangga Baru, Nomor […]

(Zenith, 1951) Puisi SM Ardan: Yang Terbaring Jemu

Puisi SM Ardan: YANG TERBARING JEMU Kawan, turunkan mata! Usapkan jari pada kuntum berdebu Kuyu disejuk samudra embun Pernah membikin anak derita tertawa. Yang terbaring dengan mata redup menghambat tawa kami turut dalam diammu dengan hati kelu kami coba menyemat dada lapang di hatimu yang terbaring dalam cekikan dengan mata menekan jiwa tidurlah puas bermimpi […]

(Siasat, 1950) Puisi SM Ardan: Konsert

Puisi SM Ardan: KONSERT Selama cahaya masih berlimpah di ketinggian Jangan cari aku di tempat tengkorak-tengkorak berkumpul dan bersenda Jenguklah di rumah berlonceng bisu Aku, pencinta yang tak dikenal, asing cahaya Dan kalau datang malam musik, raba di keheningan suara Berang pada deru gila, penyentak kelembutan mimpi Pemaksa keberhentian dari perjalanan bercinta Gila oleh terhambat […]

(Siasat, 1950) Puisi SM Ardan: Orang Baru

Puisi SM Ardan: ORANG BARU Kami pergi pada mereka yang berpacu Lari dari kau dan dekapan para pencumbu Bintang berjatuhan, kami terus berjalan Tak satu menyentuh badan Rumah kami besar – tak bisa kauraba Setiap hari kita bersama Tak pernah berjumpa Rumah dengan jendela-jendela tak berdaun Penghuninya yang tak peduli Kini curiga pada angin keluar […]

(Pudjangga Baru, 1950) Puisi SM Ardan: Skets

Puisi SM Ardan: SKETS Terkatung yang masih dalam mencari, terdampar Terkejut disergap kepastian kata, mimpi? Ini air untukmu, bekal keoase Itu kata membikin sejuk udara, jejak onta berleret nyata Keterharuan dalam detik-detik  itu masih berdenyut Karena, detik-detik itu di luar kira dan jadi detik-kebal Titik-putih tampak jelas di keluasaan hitam Sumber: Majalah Pudjangga Baru, Nomor […]

(Pudjangga Baru, 1950) Puisi SM Ardan: Dengan Tengkorak

Puisi SM Ardan: DENGAN TENGKORAK Turunlah hujan! segera hujan dia turunkan Kami, aku, dan dia, kenal juga keserba-duaan Kami sama lapar, mencari dalam simpangsiur benda Antara kami jurang-kecanggungan, tidak kelihatan dari jauh: Persinggungan yang tidak datangkan suatu apa Karena kejalangan membunuh rasa-lain Yang satu tenggelam dan yang lain mengambang, aku diantaranya. Mataku dua, masih kosong. […]