Tag Archive | Sum Suradinata

(Siasat, 1952) Puisi Sum Suradinata: Fragmen Perjalanan

Puisi Sum Suradinata FRAGMEN PERJALANAN Cerita buat PIEK aku yang pernah pergi mengembara tinggalkan kemelut di balik dada sebab kekerdilan citarasa di hati bersama kefakiran dan kelumit kemampuan diri atas sobekan dan seputaran waktu. aku yang pernah lewati batasan mengabur ke balik horison yang mulai memutih dengan kepenatan di kaki dan cium panjang perpisahan yang […]

(Siasat, 1952) Puisi Sum Suradinata: Prajurit dan Kekasih

Puisi Sum Suradinata PRAJURIT DAN KEKASIH sepuluh november salam penghabisan dan senja yang menukik warna-warna kuning merah tiba di wajah kekasih juita yang ditinggal pergi, kenanglah. prajurit, yang punya kejemuan: kelemahan di tumpasan-tumpasan hidup antara prajurit, yang punya kebanggaan kemenangan antara dua buah peperangan kewajiban dan rindu memalu tak punya kemampuan lagi menengok hari-hari yang […]

(Siasat, 1952) Puisi Sum Suradinata: Senja Di Pulau

Puisi Sum Suradinata: SENJA DI PULAU senja di pulau, sekunar merapat kelokan teluk dipukul ombak penghabisan pada kelesuan mengembara nelayan yang turun yang jemu akan kelambanan dini hari tinggalkan tepi laut dengan bekas-bekas pijakan di pasir jauh di daratan, kekasih menanti keakhiran rindu dari nelayan yang pulang berhampa tangan ini paran mendekap di balik dada […]

(Indonesia, 1951) Puisi Sum Suradinata: Pengungsi

Puisi Sum Suradinata PENGUNGSI kawan, mari kita kembali dari kejatuhan dan sangsi. pengungsi dikepayahan hari panjang berbondong-bondong naiki malam patah malam tidak lagi mau berkata juga. sempat temui gadis-gadis berjompakan sama selami kejernihan air tenang dalam lecutan sinar pagi menurun pagi resah, tidak perduli apa-apa lagi. tanyai tiap tokoh di persimpangan jalan kapan ragu bergelut […]

(Zenith, 1951) Puisi Sum Suradinata: Kamar Depan Gereja

Puisi Sum Suradinata: KAMAR DEPAN GEREJA duapuluh ampat pukulan lonceng gereja pagi hari terlontar ke dinding kamar, tibalah. dini hari panjang, hari minggu bagi manusia-manusia ber-Tuhan masih, lonceng gereja pagi hari bagi daerah-daerah bertuan masih bisa membawa harapan lagi dan sambutlah kepala-kepala merunduk dan selaun irama cuma tandai kedamaian insani: sebuah penyerahan lagi dari kehidupan. […]

(Indonesia, 1951) Puisi Sum Suradinata: Sajak Buat Kawan

Puisi Sum Suradinata: SAJAK BUAT KAWAN bergegas lari dari himpitan luka-luka lusuh tinggalkan arena pacuan pertama engkau kan sampai di simpang jalan sendiri di mana kehampaan tidak mau berteriak lagi. maunya sebuah unggun api di tangan, api kemenangan tandai keangkuhan yang bisa menggelucak dada tapi nyala apimu terlalu kecil, kandil hanya alit pada ketenangan derita […]

(Siasat, 1951) Puisi Sum Suradinata: Ragu

Puisi Sum Suradinata: RAGU Kenangan pada Juita lepas kerling, mencamar pergi tinggalkan bayang-bayang di air tenang debur di dada tak bisa lagi menduga ketegangan nanti dalam pautan gini: loncati, kasih kan membunuh kasih sekali selami dengan telanjang bulat-bulat, atau dan tangan nggapai minta disambut cetus rasa tanya menanya pada perjalanan kini hendak kemana? ah, kita […]