Tag Archive | WS Rendra

(Gadjah Mada, 1958) Lagi, Enam Puisi Pendek WS Rendra

Puisi-Puisi WS Rendra: HADIRNYA Fotonya tergantung di tembok orangnya tergantung di hati. ____________________ EPISODE  Kami duduk berdua di bangku halaman rumahnya. Pohon jambu di halaman itu berbuah dengan lebatnya dan kami senang memandangnya. Angin yang lewat memainkan daun yang berguguran. Tiba-tiba ia bertanya: “Kenapa sebuah kancing bajumu lepas terbuka?” Aku hanya tertawa. Lalu ia sematkan […]

(Gadjah Mada, 1958) Enam Puisi Pendek WS Rendra

Puisi-Puisi WS Rendra: SEPEDA KEKASIH lebih baik au makan nanti saja sekarang memperbaiki sepeda rusa kekasihku ___________________ DUA BURUNG Adalah dua burung bersama membuat sarang. Kami berdua serupa burung terbang tanpa sarang. ____________________ TELAH SATU Gelisahmu adalah gelisahku. Berjalanlah kita bergandengan dalam hidup yang nyata dan kita cintai. Lama kita saling bertatap mata dan makin […]

(Abadi, 1970) Sikap, Nyanyian, Konflik, Angsa dan Rendra: Ia adalah Pemberontak dan Seniman

Sikap, Nyanyian, Konflik, Angsa  dan Rendra: Ia adalah Pemberontak dan Seniman Oleh: M. Ryana Veta   Tokoh kritikus sastra banyak yang berkata: “Pada dasarnya sneiman itu pemberontak”. Ini bagiku ada benarnya. Kreativitas memang punya sifat memberontak. Pemberontakan sebagai satu pernyataan tidak puas terhadap apa yang ada dan terhadap apa yang dirasa. Seniman, sebenarnya bukanlah ia […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Nyanyi Zubo

Puisi WS Rendra: NYANYI ZUBO Nyanyimu hitam, Zubo derita botak kepalamu. Dering kaleng di jalan terguling memberi luka pada malam. Zubo! Zubo! Kata-kata darah yang hitam mengetuki botak kepalamu. Bergulung-gulung kau, Sayang, lalu menyerah dalam mimpimu. Zubo! Zubo! Menjerit-jerit kandil yang tunggal. Sinar-sinar kuning mencambuki dinding-dinding yang sepi. Bukit-bukit kerontang Tanah kapur kerontang Dan tiada […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Ia Bernyanyi di Malam Hujan

Puisi WS Rendra: IA BERNYANYI DI MALAM HUJAN Ia bernyanyi di dalam hujan dan tak seorang tahu darimana datangnya. Tak seorang berani nengok begitu gaib datangnya. Dimuntahkan dari angin. Menggembung dari air gelembung. Ia bernyanyi di malam hujan entah darimana datangnya. Burung lepas ditangiskan. Tangis domba di perut lembah. Dan air jeruk menetesi luka daging […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Pisau di Jalan

Puisi WS Rendra: PISAU DI JALAN Ada pisau tertinggal di jalan dan mentari menggigir atasnya. Ada pisau tertinggal di jalan dan di matanya darah tua. Tak seorang tahu dahaga getir terakhir dilepas di mana: Tubuh yang dilumpuhkan terlupa di mana. Hari berdarah terluka dan tak seorang berkabung. Ajal yang hitam tanpa pahatan. Dan mayat biru […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Balada Penyaliban

Puisi WS Rendra: BALADA PENYALIBAN Yesus berjalan ke Golgota disandangnya salib kayu bagai domba kapas putih. Tiada mawar-mawar di jalanan tiada daun-daun palma domba putih menyeret azab dan dera merunduk oleh tugas teramat dicinta dan ditanam atas maunya. Mentari meleleh segala menetes dari luka dan leluhur kita Ibrahim berlutut, dua tangan pada Bapa: – Bapa […]