Tag Archive | WS Rendra

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Nyanyi Zubo

Puisi WS Rendra: NYANYI ZUBO Nyanyimu hitam, Zubo derita botak kepalamu. Dering kaleng di jalan terguling memberi luka pada malam. Zubo! Zubo! Kata-kata darah yang hitam mengetuki botak kepalamu. Bergulung-gulung kau, Sayang, lalu menyerah dalam mimpimu. Zubo! Zubo! Menjerit-jerit kandil yang tunggal. Sinar-sinar kuning mencambuki dinding-dinding yang sepi. Bukit-bukit kerontang Tanah kapur kerontang Dan tiada […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Ia Bernyanyi di Malam Hujan

Puisi WS Rendra: IA BERNYANYI DI MALAM HUJAN Ia bernyanyi di dalam hujan dan tak seorang tahu darimana datangnya. Tak seorang berani nengok begitu gaib datangnya. Dimuntahkan dari angin. Menggembung dari air gelembung. Ia bernyanyi di malam hujan entah darimana datangnya. Burung lepas ditangiskan. Tangis domba di perut lembah. Dan air jeruk menetesi luka daging […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Pisau di Jalan

Puisi WS Rendra: PISAU DI JALAN Ada pisau tertinggal di jalan dan mentari menggigir atasnya. Ada pisau tertinggal di jalan dan di matanya darah tua. Tak seorang tahu dahaga getir terakhir dilepas di mana: Tubuh yang dilumpuhkan terlupa di mana. Hari berdarah terluka dan tak seorang berkabung. Ajal yang hitam tanpa pahatan. Dan mayat biru […]

(Kisah, 1955) Puisi WS Rendra: Balada Penyaliban

Puisi WS Rendra: BALADA PENYALIBAN Yesus berjalan ke Golgota disandangnya salib kayu bagai domba kapas putih. Tiada mawar-mawar di jalanan tiada daun-daun palma domba putih menyeret azab dan dera merunduk oleh tugas teramat dicinta dan ditanam atas maunya. Mentari meleleh segala menetes dari luka dan leluhur kita Ibrahim berlutut, dua tangan pada Bapa: – Bapa […]

(Merdeka, 1955) Puisi WS Rendra: Tentang Seorang Gadis

Puisi WS Rendra: TENTANG SEORANG GADIS Jelita yang kaya pergi menjalang bau minyak wangi di remang ruang dan kekeh kekeh yang gersang Jelita yang kaya punya banyak aroma anggur tapi cintanya tiada bunga, cintanya lacur. Bila pagi datang dibawa tembang dari asrama mesum cara kampung tiada tangis pun tawa dibawa kenang jemu dan dingin yang […]

(Siasat, 1954) Puasa WS Rendra: Ho Liang Telah Pergi

Puisi WS Rendra: HO LIANG TELAH PERGI Teramat biru, Ho Liang! Gelap dan sepi? Teramat ringan, Ho Liang! Melayang pergi. Roh Ho Liang putih burung undan terbang putih tinggal ke mentari. Apa panas di sana, Ho Liang? Padang salju atau firdausi? Engkau saja yang cerita, Ho Liang! Jangan kemurungan tanah merah di sini! Terkadang teramat […]

(Indonesia, 1954) Puisi WS Rendra: Seorang Temanku

Puisi WS Rendra: SEORANG TEMANKU Ia sebatang kara dan hidupnya dirampas di jalan raya. Lonceng berdentang dari menara jauh malam pukul tiga. Kesepian malam terbujur pada kota kesepian malam terbaring pada hatinya. Lewatlah perempuan tua dengan hasil bumi dari dusun untuk dijual di pasar kota lewat malam dan embun turun Kelelawar terbang pulang di ujung […]